Beritalogy – Pramono Anung menargetkan seluruh wilayah Jakarta mendapatkan akses air bersih pada 2029. Saat ini, cakupan layanan tersebut telah mencapai sekitar 82 persen. Artinya, pemerintah masih perlu mengejar sekitar 18 poin persentase dalam beberapa tahun ke depan. Target itu menjadi bagian dari agenda pembangunan Jakarta yang lebih berkelanjutan dan layak huni. Selain itu, perluasan layanan air bersih memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Ketersediaan air yang memadai mendukung kesehatan, aktivitas rumah tangga, hingga kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, pembangunan jaringan air tidak hanya berkaitan dengan fasilitas dasar. Infrastruktur tersebut juga menjadi investasi jangka panjang bagi sebuah kota. Pramono menyampaikan target itu dalam Jakarta Investment Festival Summit 2026 pada 28 Agustus 2026. Dalam forum tersebut, pemerintah juga memperkenalkan berbagai peluang investasi yang diharapkan dapat mempercepat transformasi Jakarta.
Baca Juga: Meikarta Tawarkan Hunian dengan Cicilan Rp1,7 Jutaan Flat hingga Lunas
Target 2029 Membutuhkan Perluasan Infrastruktur
Mencapai cakupan 100 persen bukan pekerjaan sederhana. Pemerintah harus memperluas jaringan menuju kawasan yang belum mendapatkan pelayanan secara optimal. Selain itu, kualitas pasokan perlu dijaga agar layanan tetap dapat diandalkan. Tantangan semakin besar karena Jakarta memiliki karakter wilayah yang beragam. Permukiman padat tentu membutuhkan pendekatan berbeda dibanding kawasan pengembangan baru. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menyusun pembangunan secara bertahap dan terukur. Target yang disampaikan Pramono juga perlu dibarengi dengan kesiapan jaringan, sumber air, serta sistem distribusi. Bagi masyarakat, hal terpenting bukan sekadar angka cakupan. Warga membutuhkan layanan yang stabil dan mudah diakses. Jika pembangunan berjalan konsisten, manfaatnya dapat menjangkau berbagai aspek kehidupan. Air bersih dapat mendukung kesehatan masyarakat dan meningkatkan kenyamanan lingkungan. Pada saat yang sama, infrastruktur yang baik juga dapat memperkuat produktivitas ekonomi sebuah kawasan.
Air Bersih Menjadi Bagian dari Transformasi Jakarta
Agenda yang dibawa Pramono tidak berdiri pada satu sektor saja. Pemerintah Jakarta juga mendorong pengembangan transportasi, pengelolaan sampah, dan kawasan perkotaan. Dengan demikian, air bersih ditempatkan sebagai bagian dari transformasi kota yang lebih luas. Pendekatan tersebut cukup penting karena setiap infrastruktur perkotaan saling berhubungan. Transportasi yang efisien membantu mobilitas masyarakat. Sementara itu, sistem air yang baik mendukung kesehatan dan aktivitas ekonomi. Pengelolaan sampah juga menentukan kualitas lingkungan dalam jangka panjang. Menurut saya, pembangunan seperti ini akan lebih efektif jika pemerintah tidak mengejar proyek secara terpisah. Setiap sektor sebaiknya terhubung melalui perencanaan yang jelas. Dengan cara tersebut, manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas. Jakarta tidak hanya membutuhkan gedung dan fasilitas baru. Kota ini juga memerlukan layanan dasar yang mampu mengikuti kebutuhan jutaan orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya.
Investasi Rp115 Triliun Ditawarkan untuk Proyek Strategis
Selain membahas layanan air, Pramono menggunakan Jakarta Investment Festival 2026 untuk membuka peluang kerja sama dengan investor. Pemerintah menawarkan 37 proyek strategis dengan nilai investasi indikatif sekitar Rp115 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pembangunan yang sedang dipersiapkan Jakarta. Namun, modal bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan. Pemerintah juga mencari mitra yang dapat membawa teknologi, keahlian, serta model bisnis inovatif. Kolaborasi semacam ini dapat membantu mempercepat pembangunan jika dilakukan secara transparan dan terukur. Selain itu, keterlibatan sektor swasta dapat membuka akses terhadap teknologi yang lebih efisien. Dari sisi ekonomi, proyek berskala besar juga dapat menciptakan aktivitas baru. Sektor konstruksi, teknologi, jasa, dan tenaga kerja berpotensi mendapatkan dampak. Meski demikian, manfaat bagi masyarakat tetap harus menjadi ukuran utama. Nilai investasi yang besar akan lebih berarti jika menghasilkan layanan publik yang semakin baik.
ITF Sunter Menjadi Salah Satu Proyek Prioritas
Salah satu proyek yang turut menjadi perhatian adalah Intermediate Treatment Facility atau ITF Sunter. Proyek pengolahan sampah menjadi energi tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp5,3 triliun. Menurut paparan Pramono, fasilitas itu dirancang dengan kapasitas pengolahan hingga 2.020 ton sampah per hari. Selain itu, proyek tersebut ditargetkan dapat mengurangi volume sampah lebih dari 80 persen. Energi yang dihasilkan diproyeksikan mencapai 35 megawatt. Kehadiran proyek ini memperlihatkan arah pembangunan Jakarta yang mulai menghubungkan kebutuhan lingkungan dengan teknologi energi. Sampah tidak hanya dipandang sebagai masalah yang harus dibuang. Sebaliknya, material tersebut ingin dikelola melalui sistem yang memberikan nilai tambahan. Namun, proyek waste to energy tetap membutuhkan pengawasan ketat. Aspek lingkungan, efisiensi teknologi, biaya, dan keberlanjutan operasional harus menjadi perhatian. Dengan pengelolaan yang tepat, proyek tersebut berpotensi membantu mengurangi tekanan terhadap sistem persampahan Jakarta.
Infrastruktur Dasar Bisa Memperkuat Ekonomi Kota
Air bersih mungkin terlihat sebagai persoalan layanan publik. Namun, dampaknya terhadap ekonomi cukup luas. Kawasan dengan infrastruktur dasar yang baik cenderung lebih mendukung aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Rumah tangga dapat menjalankan kegiatan sehari-hari dengan lebih efisien. Sementara itu, pelaku usaha mendapatkan dukungan utilitas yang lebih stabil. Karena itu, target Pramono untuk mencapai cakupan 100 persen memiliki dimensi ekonomi yang penting. Infrastruktur juga dapat memengaruhi daya tarik suatu kawasan bagi investor. Perusahaan tentu mempertimbangkan kualitas transportasi, energi, air, dan layanan kota sebelum melakukan ekspansi. Oleh sebab itu, peningkatan akses air bersih dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing Jakarta. Meski begitu, pemerintah perlu memastikan pembangunan tetap memperhatikan keterjangkauan layanan. Infrastruktur yang tersedia tetapi sulit dijangkau secara ekonomi belum tentu memberikan manfaat maksimal. Akses fisik dan kemampuan masyarakat menggunakan layanan perlu berjalan beriringan.
Baca Juga: Waspadai Investasi Imbal Hasil Tinggi, BRI Ingatkan Risiko Penipuan
Kolaborasi dengan Investor Perlu Menghasilkan Manfaat Nyata
Ajakan Pramono kepada investor membawa peluang sekaligus tanggung jawab besar. Jakarta membutuhkan modal untuk mempercepat pembangunan. Namun, setiap kerja sama juga perlu memberikan manfaat yang jelas bagi masyarakat. Karena itu, transparansi proyek menjadi aspek penting. Pemerintah perlu menjelaskan tujuan, skema pembiayaan, risiko, dan hasil yang ingin dicapai. Selain modal, teknologi dari mitra swasta dapat membantu meningkatkan efisiensi layanan. Pengalaman perusahaan dalam menjalankan proyek besar juga dapat menjadi keuntungan. Meski demikian, kepentingan publik harus tetap berada di depan. Menurut saya, keberhasilan investasi perkotaan tidak cukup diukur dari banyaknya proyek yang ditandatangani. Ukuran yang lebih relevan adalah dampaknya setelah proyek berjalan. Warga seharusnya mendapatkan layanan lebih baik, sementara kota menjadi lebih efisien. Dengan pendekatan tersebut, investasi dapat menjadi instrumen pembangunan, bukan sekadar angka besar yang menarik perhatian dalam sebuah forum bisnis.
Sisa 18 Persen Menjadi Tantangan Berikutnya
Cakupan air bersih sebesar 82 persen menunjukkan bahwa sebagian besar target sudah tercapai. Namun, mengejar bagian yang tersisa dapat menjadi tantangan tersendiri. Kawasan yang belum terlayani mungkin memiliki hambatan teknis, geografis, atau kebutuhan investasi yang berbeda. Karena itu, Pramono dan pemerintah Jakarta perlu menjaga konsistensi pembangunan hingga 2029. Perluasan jaringan juga harus disertai pemeliharaan infrastruktur yang sudah beroperasi. Dengan demikian, peningkatan cakupan tidak mengorbankan kualitas layanan yang ada. Pemerintah juga perlu memperhatikan pertumbuhan penduduk dan perkembangan kawasan. Kebutuhan air dapat berubah seiring pembangunan kota. Oleh sebab itu, perencanaan harus melihat kondisi beberapa tahun ke depan. Target 100 persen akan lebih bermakna jika layanan dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Bukan hanya jumlah warga yang terhubung yang penting, tetapi juga kualitas, kontinuitas, dan keterjangkauan layanan yang mereka terima.
Tahun 2029 Menjadi Tolok Ukur Pembangunan Jakarta
Target yang ditetapkan Pramono memberikan batas waktu yang jelas bagi pemerintah Jakarta. Hingga 2029, pembangunan jaringan perlu terus berjalan agar kesenjangan layanan dapat dipersempit. Pada saat yang sama, berbagai proyek investasi juga harus bergerak dari tahap perencanaan menuju realisasi. Jika keduanya berjalan beriringan, Jakarta dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus sosial. Infrastruktur air bersih akan memperkuat layanan dasar. Sementara itu, proyek transportasi, pengelolaan sampah, dan pengembangan kawasan dapat mendukung transformasi kota secara lebih menyeluruh. Namun, target besar selalu membutuhkan evaluasi berkala. Masyarakat perlu mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dari tahun ke tahun. Transparansi seperti itu juga dapat meningkatkan kepercayaan publik. Pada akhirnya, keberhasilan target 2029 tidak hanya ditentukan oleh angka 100 persen. Hasil terpenting adalah apakah semakin banyak warga Jakarta mendapatkan layanan air bersih yang aman, stabil, dan dapat diandalkan.
