Beritalogy – Jelang Sanksi Terberat AS, tekanan terhadap perekonomian Iran semakin terasa. Rial Iran dilaporkan jatuh hingga sekitar 1,98 juta rial per dolar AS di pasar terbuka. Level tersebut menjadi salah satu titik terlemah mata uang Iran. Pelemahan terjadi ketika Teheran menghadapi inflasi tinggi dan penurunan ekspor minyak. Selain itu, pemerintah memiliki ruang fiskal yang semakin terbatas. Situasi menjadi lebih rumit karena Amerika Serikat menyiapkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump akan mengumumkan langkah tersebut pada 24 Agustus 2026. Bagi masyarakat Iran, tekanan ini bukan sekadar persoalan nilai tukar. Ketika rial kehilangan nilainya, harga barang dapat meningkat dan daya beli ikut tergerus. Karena itu, pergerakan rial kini menjadi salah satu indikator penting untuk membaca ketahanan ekonomi Iran.
Baca Juga: Karhutla Meluas, Kemenhub Buka Jalur Khusus bagi 35 Pesawat Asing
Rial Iran Terus Tertekan Sepanjang 2026
Pelemahan rial tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada Januari 2026, mata uang Iran masih diperdagangkan sekitar 1,52 juta rial per dolar AS di pasar terbuka. Kemudian, nilainya melemah menjadi sekitar 1,81 juta pada April. Tekanan kembali meningkat pada Juli ketika kurs bergerak ke kisaran 1,92 juta rial. Kini, nilainya telah mendekati 1,98 juta rial per dolar AS. Tren tersebut memperlihatkan tekanan yang terus bertambah sepanjang tahun. Selain faktor geopolitik, kondisi ekonomi domestik turut memengaruhi kepercayaan terhadap mata uang. Ketika masyarakat dan pelaku usaha khawatir terhadap inflasi, permintaan terhadap mata uang asing dapat meningkat. Akibatnya, rial menghadapi tekanan tambahan. Kondisi ini juga dapat meningkatkan biaya barang impor. Pada akhirnya, pelemahan kurs berisiko kembali mendorong kenaikan harga di dalam negeri.
Jelang Sanksi Terberat AS, Pasar Menghadapi Ketidakpastian
Ketidakpastian meningkat menjelang pengumuman kebijakan baru dari Washington. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintahan Trump akan memperkenalkan langkah ekonomi baru terhadap Iran pada 24 Agustus 2026. Amerika juga mendorong negara-negara mitranya untuk ikut meningkatkan tekanan terhadap Teheran. China menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian karena hubungan perdagangan energinya dengan Iran. Bahkan sebelum sanksi diberlakukan, ekspektasi pasar dapat memengaruhi aktivitas ekonomi. Pelaku usaha akan mempertimbangkan risiko pembayaran, perdagangan, dan akses terhadap mata uang asing. Sementara itu, masyarakat dapat meningkatkan permintaan dolar untuk menjaga nilai aset. Kombinasi tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap rial. Oleh sebab itu, bentuk dan cakupan sanksi baru akan menjadi perhatian utama pasar.
Ekspor Minyak Iran Mengalami Penurunan Tajam
Tekanan terhadap rial juga berkaitan dengan melemahnya ekspor minyak. Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan pengapalan minyak Iran turun menjadi sekitar 287.000 barel per hari pada Agustus. Sebelumnya, volume pengiriman sempat berada di kisaran 2 juta barel per hari pada musim semi. Penurunan tersebut menjadi persoalan penting karena minyak merupakan sumber devisa utama Iran. Ketika ekspor turun, pasokan mata uang asing yang masuk ke perekonomian juga dapat berkurang. Kondisi serupa terlihat dari perdagangan dengan China. Impor minyak mentah Iran oleh China dilaporkan turun menjadi sekitar 534.000 barel per hari. Sebagai perbandingan, volumenya mencapai sekitar 1,4 juta barel per hari pada tahun sebelumnya. Jika tren tersebut berlanjut, kemampuan Iran memperoleh devisa dapat semakin terbatas.
Inflasi Tinggi Mengikis Daya Beli Masyarakat
Dampak tekanan ekonomi paling nyata terlihat pada kehidupan masyarakat. Inflasi tahunan Iran dilaporkan mencapai 87,9 persen pada bulan Tir dalam kalender Iran. Sementara itu, harga makanan dan minuman disebut melonjak hingga 128,1 persen. Kenaikan tersebut membuat kebutuhan dasar semakin sulit dijangkau sebagian rumah tangga. Pada saat yang sama, upah minimum berada di sekitar 166 juta rial per bulan. Berdasarkan kurs pasar dalam laporan, jumlah tersebut hanya setara sekitar USD87. Ketika harga naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, daya beli masyarakat otomatis melemah. Rumah tangga biasanya mulai mengurangi konsumsi atau memilih barang yang lebih murah. Karena itu, pelemahan rial tidak hanya menjadi persoalan pasar keuangan. Dampaknya dapat masuk langsung ke meja makan masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Kekhawatiran Hiperinflasi Mulai Muncul
Lonjakan harga yang tinggi memunculkan kekhawatiran mengenai risiko hiperinflasi. Profesor ekonomi Universitas Allameh Tabatabai, Farshad Momeni, menilai Iran telah memasuki kondisi tersebut. Bahkan, tingkat inflasi disebut telah mencapai tiga digit di beberapa provinsi. Namun, pemerintah memberikan pandangan berbeda. Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnasser Hemmati menyatakan perekonomian masih berada dalam kendali pemerintah. Perbedaan penilaian ini memperlihatkan besarnya tantangan yang sedang dihadapi Teheran. Pemerintah perlu menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap rial. Jika kepercayaan terus menurun, masyarakat dapat memilih menyimpan dolar atau aset lain. Akibatnya, tekanan terhadap mata uang domestik bisa semakin besar. Oleh sebab itu, stabilitas rial akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan ekonomi dan kemampuan pemerintah menjaga ekspektasi publik.
Bantuan Pangan Disiapkan untuk Menahan Tekanan
Pemerintah Iran mulai mempertimbangkan berbagai cara untuk melindungi daya beli masyarakat. Salah satu langkah yang diusulkan adalah menaikkan nilai kupon pangan sebesar 23 persen. Nilainya menjadi sekitar 12,3 juta rial per bulan atau sekitar USD6,40 berdasarkan kurs pasar yang disebutkan. Bantuan tersebut dapat memberikan perlindungan sementara bagi rumah tangga yang paling terdampak. Namun, tantangannya tetap besar. Ketika harga makanan meningkat sangat cepat, nilai riil bantuan juga dapat terkikis dalam waktu singkat. Karena itu, kebijakan sosial perlu dibarengi dengan upaya menekan inflasi. Pemerintah juga harus mempertimbangkan kondisi fiskal ketika penerimaan dari sektor minyak sedang tertekan. Jika pendapatan negara turun, ruang untuk memperluas bantuan dapat semakin terbatas.
Baca Juga: Magang Nasional 2026 Batch 2 Segera Dibuka, Catat Jadwal Pendaftarannya
Tekanan Ekonomi Memicu Perdebatan Politik
Kondisi ekonomi Iran juga mulai memengaruhi perdebatan politik di dalam negeri. Presiden Masoud Pezeshkian menyinggung pentingnya mengakhiri perang ketika Iran berada dalam posisi kuat dan dihormati. Sementara itu, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa kekuatan militer saja tidak cukup. Menurut pandangannya, kondisi masyarakat dan perputaran ekonomi tetap harus menjadi perhatian. Di sisi lain, kelompok garis keras menolak pendekatan yang dianggap menunjukkan kelemahan terhadap tekanan asing. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga menilai strategi tekanan ekonomi Amerika bukan sesuatu yang baru. Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa masalah ekonomi kini semakin berkaitan dengan arah kebijakan luar negeri Iran. Ketika tekanan terhadap masyarakat meningkat, keputusan geopolitik juga memiliki konsekuensi ekonomi yang semakin besar.
Sektor Energi dan Keuangan Berada dalam Sorotan
Perhatian berikutnya tertuju pada sektor yang akan menjadi sasaran kebijakan Washington. Energi dan keuangan memiliki posisi penting karena keduanya berkaitan langsung dengan kemampuan Iran memperoleh devisa. Jika akses ekspor minyak semakin terbatas, penerimaan negara dapat kembali tertekan. Sementara itu, pembatasan terhadap transaksi keuangan dapat menyulitkan aktivitas perdagangan internasional. Namun, besarnya dampak tetap bergantung pada penerapan sanksi dan respons mitra dagang Iran. China menjadi salah satu faktor penting karena selama ini menjadi pembeli minyak Iran. Oleh sebab itu, kemampuan Teheran mempertahankan jalur perdagangan akan menentukan seberapa berat tekanan berikutnya. Pemerintah Iran juga perlu menjaga stabilitas pasar domestik agar ketidakpastian tidak memicu pelemahan rial yang lebih dalam.
Rekor Terendah Rial Menjadi Ujian Besar bagi Teheran
Jelang Sanksi Terberat AS, posisi ekonomi Iran berada dalam periode yang sangat menentukan. Rial telah mendekati 1,98 juta per dolar AS. Sementara itu, inflasi tinggi terus menekan kemampuan belanja masyarakat. Penurunan ekspor minyak juga mempersempit sumber devisa yang dibutuhkan negara. Menurut saya, persoalan terbesar bukan hanya seberapa jauh rial akan melemah. Hal yang lebih penting adalah kemampuan pemerintah menjaga harga kebutuhan dan mempertahankan aktivitas ekonomi. Jika pendapatan masyarakat tertinggal jauh dari kenaikan harga, tekanan sosial dapat semakin besar. Sebaliknya, stabilisasi kurs tanpa pengendalian inflasi juga tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan. Karena itu, periode setelah pengumuman sanksi baru akan menjadi ujian besar bagi kebijakan fiskal dan moneter Teheran.
