Beritalogy – Ancaman beras berkapang menjadi salah satu perhatian ketika cuaca ekstrem mulai memengaruhi rantai pangan. BPOM memperkuat pengawasan keamanan pangan seiring ancaman El Nino sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027. Kemarau panjang bukan hanya berpotensi mengganggu produksi. Perubahan suhu, kondisi penyimpanan, dan keterbatasan air bersih juga dapat memengaruhi mutu pangan. Karena itu, pengawasan menjadi penting sejak proses produksi hingga makanan sampai kepada konsumen. BPOM turut memberi perhatian pada cadangan beras pemerintah agar kualitasnya tetap terjaga sebelum didistribusikan. Langkah tersebut terasa semakin relevan menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Pada periode itu, kebutuhan pangan biasanya meningkat. Menurut saya, situasi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak cukup diukur dari banyaknya stok. Pangan juga harus memiliki mutu yang baik dan aman untuk dikonsumsi masyarakat.
Baca Juga: Beeru Stevia Jadi Sorotan, BPOM Periksa Kandungan Pemanisnya
Cuaca Ekstrem Bisa Mengubah Kondisi Rantai Pangan
El Nino dapat membawa periode kering yang panjang di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh terhadap produksi, penyimpanan, hingga distribusi pangan. Suhu tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap bahan makanan tertentu. Sementara itu, keterbatasan air bersih berpotensi mengganggu sanitasi. Kepala BPOM Taruna Ikrar menekankan bahwa keamanan pangan merupakan bagian dari ketahanan pangan. Oleh sebab itu, pengawasan berbasis risiko diperkuat bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Pendekatan tersebut penting karena persoalan pangan tidak berhenti ketika panen selesai. Komoditas masih melewati gudang, transportasi, pasar, hingga penyimpanan rumah tangga. Setiap tahap memiliki kondisi yang berbeda. Jika pengelolaannya kurang baik, kualitas pangan dapat menurun sebelum sampai ke meja makan. Dengan demikian, menghadapi El Nino juga membutuhkan perhatian terhadap cara pangan disimpan dan didistribusikan.
Mengapa Beras Berkapang Tidak Boleh Dianggap Sepele?
Beras merupakan bahan pangan kering, tetapi bukan berarti bebas dari masalah penyimpanan. Kondisi lembap dapat mendukung pertumbuhan kapang pada bahan pangan tertentu. Karena itu, beras berkapang atau beras dengan perubahan fisik mencurigakan sebaiknya tidak langsung dikonsumsi. Konsumen dapat memperhatikan aroma, warna, tekstur, serta kondisi tempat penyimpanannya. Jika terlihat pertumbuhan kapang atau muncul bau yang tidak normal, langkah paling aman adalah menghindari konsumsi. Jangan hanya mengandalkan proses pencucian untuk menganggap bahan tersebut kembali aman. Selain itu, penyebab perubahan kualitas tidak selalu dapat diketahui hanya melalui pengamatan sederhana. Pemeriksaan laboratorium tetap dibutuhkan untuk menentukan jenis kontaminasi tertentu. Oleh sebab itu, masyarakat tidak perlu mencoba menilai sendiri apakah kapang tertentu berbahaya atau tidak. Prinsip kehati-hatian jauh lebih masuk akal ketika kondisi bahan pangan sudah menunjukkan tanda kerusakan.
Aflatoksin Juga Menjadi Risiko yang Mendapat Sorotan
Perhatian BPOM tidak terbatas pada beras. Selama El Nino, potensi cemaran aflatoksin pada jagung dan kacang tanah juga menjadi salah satu titik kritis. Aflatoksin merupakan racun yang dihasilkan oleh jenis kapang tertentu. Paparan dalam jumlah tinggi atau berulang dapat menjadi masalah kesehatan. Karena itu, pencegahan kontaminasi melalui penanganan dan penyimpanan yang baik sangat penting. Konsumen juga perlu memahami bahwa tidak semua cemaran dapat dikenali melalui warna atau aroma. Dengan demikian, pengawasan dari produsen dan pemerintah tetap memiliki peran besar. BPOM melakukan pengawasan berbasis risiko agar komoditas yang lebih rentan mendapatkan perhatian sesuai kondisinya. Dari sisi masyarakat, membeli bahan pangan dari sumber yang jelas menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan. Selain itu, hindari menggunakan bahan makanan yang menunjukkan kerusakan nyata, terutama jika sudah berjamur atau memiliki aroma yang menyimpang.
Pemeriksaan Cadangan Beras Didorong Sebelum Didistribusikan
BPOM mengusulkan kepada Badan Pangan Nasional dan Perum Bulog agar pemeriksaan mutu cadangan beras pemerintah diperkuat. Pemeriksaan dilakukan sebelum beras disalurkan kepada masyarakat. Tujuannya untuk memastikan beras tidak mengalami perubahan warna, bau, atau pertumbuhan kapang. Langkah tersebut penting karena distribusi dalam skala besar membutuhkan kontrol kualitas yang konsisten. Jika satu bagian penyimpanan bermasalah, dampaknya dapat menjangkau banyak penerima. Selain itu, masa penyimpanan menjadi faktor yang perlu dikelola secara baik. Kondisi gudang, kelembapan, kebersihan, dan sirkulasi udara dapat memengaruhi mutu bahan pangan. Karena itu, persoalan beras berkapang tidak hanya menjadi tanggung jawab konsumen di rumah. Pencegahan harus berlangsung sejak penyimpanan dalam jumlah besar hingga produk diterima masyarakat. Pengawasan pada setiap tahap akan memberikan perlindungan yang lebih kuat dibanding hanya memeriksa produk pada akhir rantai distribusi.
Keterbatasan Air Bersih Bisa Memengaruhi Sanitasi Makanan
Kemarau panjang juga dapat membawa persoalan lain, yaitu berkurangnya akses terhadap air bersih. Padahal, air memiliki peran besar dalam menjaga kebersihan pangan. Air digunakan untuk mencuci tangan, membersihkan peralatan, mencuci bahan makanan, dan mendukung proses produksi. Ketika pasokannya terbatas, praktik sanitasi dapat menjadi lebih sulit dilakukan. BPOM memasukkan kondisi tersebut sebagai salah satu titik kritis selama El Nino. Di rumah, masyarakat tetap dapat mengurangi risiko melalui kebiasaan sederhana. Gunakan air yang layak untuk mencuci bahan makanan dan peralatan dapur. Selain itu, pisahkan bahan mentah dari makanan matang. Permukaan dapur juga perlu dibersihkan secara rutin. Langkah tersebut terdengar sederhana, tetapi memiliki peran penting dalam mengurangi risiko kontaminasi silang. Pada akhirnya, keamanan makanan bukan hanya ditentukan oleh kualitas ketika dibeli, tetapi juga oleh cara makanan ditangani sebelum dikonsumsi.
Ayam, Telur, Ikan, dan Sayuran Turut Masuk Pengawasan
Selain beras, BPOM melakukan pengambilan sampel terhadap sejumlah komoditas yang rentan terdampak kondisi lingkungan. Ayam, telur, ikan, dan sayuran termasuk bahan yang mendapat perhatian, terutama di wilayah rawan kekeringan. Setiap komoditas memiliki karakteristik yang berbeda. Produk segar, misalnya, membutuhkan penanganan suhu dan kebersihan yang lebih ketat dibandingkan sebagian bahan kering. Oleh karena itu, pendekatan pengawasan tidak dapat dibuat sama untuk seluruh pangan. BPOM juga memperkuat standar keamanan melalui Sertifikat Sistem Manajemen Keamanan Pangan Olahan atau SMKPO. Berdasarkan data yang disampaikan, 1.074 sertifikat diterbitkan sepanjang Oktober 2024 hingga Oktober 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengawasan tidak hanya dilakukan ketika produk sudah beredar. Sistem keamanan juga perlu dibangun dari proses produksi. Pendekatan pencegahan seperti ini penting karena masalah pangan lebih baik dicegah sebelum mencapai konsumen.
Baca Juga: Kanker Payudara Bukan Akhir Segalanya, Kenali Peluang Pengobatannya
Gangguan Pasokan Bisa Membuka Risiko Pengoplosan Pangan
El Nino juga dapat mengganggu hasil panen dan pasokan sejumlah komoditas. Ketika stok berkurang sementara permintaan tetap tinggi, risiko pemalsuan atau pengoplosan pangan dapat meningkat. BPOM menempatkan persoalan tersebut sebagai salah satu kondisi yang perlu diwaspadai. Konsumen pun dapat mengambil peran dengan lebih teliti ketika berbelanja. Periksa kondisi kemasan, label, izin edar untuk produk yang memang memerlukannya, serta informasi produsen. Selain itu, harga yang sangat tidak wajar dapat menjadi alasan untuk lebih berhati-hati. Membeli dari penjual terpercaya juga dapat mengurangi risiko mendapatkan produk dengan asal-usul yang tidak jelas. Namun, konsumen tidak mungkin mendeteksi seluruh bentuk pemalsuan secara mandiri. Karena itu, pengawasan pemerintah dan rantai distribusi yang transparan tetap menjadi lapisan perlindungan utama. Kolaborasi tersebut semakin penting ketika pasokan pangan menghadapi tekanan akibat perubahan iklim.
Menyimpan Beras dengan Benar Membantu Menjaga Mutunya
Pencegahan beras berkapang juga dapat dimulai dari dapur rumah. Beras sebaiknya disimpan di tempat yang bersih dan kering. Wadah perlu tertutup dengan baik agar terlindung dari kelembapan, air, kotoran, dan hama. Selain itu, hindari menempatkan wadah beras di area yang mudah terkena cipratan air. Konsumen juga sebaiknya memeriksa stok lama sebelum menambahkan beras baru dalam jumlah besar. Kebiasaan tersebut membantu mencegah beras tersimpan terlalu lama tanpa terpantau. Sebelum memasak, perhatikan kondisi fisiknya. Aroma yang berubah, warna tidak normal, atau pertumbuhan kapang merupakan tanda yang patut diwaspadai. Jika kualitasnya meragukan, membuang bahan tersebut merupakan pilihan yang lebih aman daripada mengambil risiko. Langkah sederhana dalam penyimpanan dapat membantu menjaga kualitas beras sekaligus mengurangi pemborosan akibat kerusakan.
Keamanan Pangan Perlu Dijaga dari Gudang hingga Meja Makan
Ancaman El Nino menunjukkan hubungan erat antara iklim, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat. Pemerintah memang perlu menjaga stok serta distribusi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Namun, ketersediaan saja belum cukup. Pangan yang beredar juga harus aman dan memiliki mutu yang layak. Karena itu, pengawasan terhadap beras berkapang, potensi aflatoksin, sanitasi, serta kerusakan akibat suhu tinggi menjadi relevan. Di sisi lain, masyarakat dapat membantu melalui kebiasaan memilih, menyimpan, dan mengolah makanan secara benar. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, distributor, dan konsumen akhirnya menjadi bagian penting dari sistem keamanan pangan. El Nino mungkin tidak dapat dihentikan, tetapi risiko terhadap makanan masih dapat ditekan melalui pengawasan yang konsisten dan perilaku konsumsi yang lebih hati-hati.
