Beritalogy – Duka Pascagempa Flores datang dari Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Mario Calviano Guru, balita berusia dua tahun, meninggal pada Kamis, 20 Agustus 2026. Sebelumnya, Mario mengalami sakit ketika tinggal bersama orangtuanya di lokasi pengungsian. Ia sempat mendapat pertolongan medis di Kabupaten Nagekeo. Namun, kondisinya terus memburuk sehingga harus dirujuk ke RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada. Kapolres Ngada AKBP Gede Harimbawa membenarkan kabar meninggalnya Mario. Peristiwa ini memperlihatkan sisi lain dari sebuah bencana. Ketika guncangan telah berhenti, perjuangan warga terdampak belum tentu selesai. Mereka masih harus menghadapi kondisi tempat tinggal sementara, kebutuhan dasar, serta persoalan kesehatan. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian lebih besar. Karena itu, masa pengungsian perlu mendapat perhatian serius, sama seperti proses penyelamatan pada saat bencana pertama kali terjadi.
Baca Juga: Viral Sosok “Pria Senter” di Lokasi Karhutla Palangka Raya, Polisi Amankan Dua Orang
Mario Mengungsi Bersama Orangtuanya Sejak Gempa Terjadi
Mario merupakan warga Kampung Puta, Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Menurut Penanggung Jawab Posko Darurat Nagekeo, Johanes D. Kristianus, Mario mulai mengungsi bersama kedua orangtuanya sejak 15 Agustus 2026. Keluarga tersebut menuju Bukit Puta setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores. Keputusan untuk mengungsi menjadi langkah penting ketika warga masih menghadapi kekhawatiran terhadap kondisi di sekitar tempat tinggal. Namun, kehidupan di lokasi pengungsian membawa tantangan baru. Keluarga harus menyesuaikan diri dengan tempat sementara dan fasilitas yang tersedia. Situasi tersebut tentu lebih berat bagi keluarga yang membawa anak kecil. Balita membutuhkan tempat istirahat yang layak, makanan sesuai usia, air bersih, serta perlindungan dari lingkungan. Oleh sebab itu, kebutuhan kelompok rentan perlu mendapat prioritas sejak awal. Keselamatan dari dampak gempa memang penting, tetapi kesehatan selama pengungsian juga tidak boleh terabaikan.
Demam Tinggi Muncul Saat Berada di Lokasi Pengungsian
Selama berada di Bukit Puta, kondisi kesehatan Mario mulai menurun. Balita tersebut mengalami sakit hingga demam tinggi. Kondisi itu kemudian mendorong warga dan petugas untuk mencari pertolongan medis. Pada anak kecil, perubahan kesehatan memang perlu diperhatikan dengan cepat. Balita belum selalu mampu menjelaskan rasa sakit yang mereka alami. Karena itu, orang tua biasanya perlu mengamati perubahan suhu tubuh, pola makan, aktivitas, dan kondisi fisik anak. Dalam kasus Mario, informasi yang tersedia menyebutkan adanya demam tinggi selama masa pengungsian. Namun, penyebab medis penyakitnya tidak sebaiknya disimpulkan tanpa keterangan resmi dari tenaga kesehatan. Hal tersebut penting agar informasi yang beredar tetap akurat. Meski begitu, kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya pemantauan kesehatan di lokasi pengungsian. Akses terhadap petugas kesehatan dapat membantu keluarga mendapatkan pemeriksaan lebih cepat ketika muncul keluhan pada anak.
Fasilitas Pengungsian yang Terbatas Menjadi Perhatian
Johanes juga menyoroti kondisi fasilitas di tempat pengungsian. Saat itu, lokasi tersebut disebut belum memiliki tenda dan kelambu yang memadai. Keterbatasan seperti ini dapat menjadi tantangan dalam situasi darurat. Pengungsi membutuhkan tempat berlindung dari panas, hujan, serta kondisi lingkungan lainnya. Sementara itu, kelambu dapat membantu mengurangi paparan gigitan nyamuk. Namun, keterbatasan fasilitas tersebut tidak dapat langsung disebut sebagai penyebab sakit atau meninggalnya Mario. Hubungan medis seperti itu membutuhkan pemeriksaan dan keterangan dari pihak berwenang. Meski demikian, kondisi pengungsian tetap layak menjadi bahan evaluasi. Dalam situasi pascabencana, kebutuhan dasar harus tersedia secepat mungkin. Selain tempat berlindung, sanitasi dan air bersih juga memiliki peran penting. Menurut saya, perlindungan bagi balita, lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan perlu menjadi prioritas. Sebab, kemampuan mereka menghadapi kondisi darurat berbeda dibandingkan orang dewasa sehat.
Mario Sempat Mendapat Perawatan di RSUD Aeramo
Ketika kondisi Mario membutuhkan pertolongan lebih lanjut, ia dibawa menuju fasilitas kesehatan di Kabupaten Nagekeo. Keterangan dari posko menyebut balita tersebut menjalani perawatan di RSUD Aeramo. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memberikan penanganan setelah kondisinya menurun. Namun, kesehatan Mario belum menunjukkan perkembangan yang diharapkan. Dalam kondisi bencana, akses menuju layanan medis memiliki peran besar. Pengungsi tidak hanya membutuhkan pos kesehatan di lokasi. Mereka juga membutuhkan sistem rujukan apabila kondisi pasien memerlukan fasilitas yang lebih lengkap. Selain itu, kendaraan dan jalur transportasi harus tersedia agar pasien dapat dipindahkan dengan aman. Koordinasi antara petugas lapangan dan rumah sakit juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Kasus Mario memperlihatkan bahwa respons pascabencana membutuhkan jaringan layanan yang saling terhubung. Penanganan kesehatan tidak berhenti ketika seorang pasien berhasil dibawa keluar dari tempat pengungsian.
Kondisi Memburuk hingga Dirujuk ke RSUD Bajawa
Setelah menjalani perawatan di Nagekeo, kondisi Mario masih belum membaik. Karena itu, ia kemudian dirujuk ke RSUD Bajawa di Kabupaten Ngada. Kapolres Ngada menyebut rujukan dilakukan karena kondisi balita tersebut tidak bagus. Mario kemudian mendapat perawatan lanjutan di rumah sakit tersebut. Sayangnya, kondisi kesehatannya kembali menurun. Ia akhirnya meninggal dunia pada 20 Agustus 2026. Setelah itu, jenazah Mario dibawa kembali ke Nagekeo untuk diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan. Perjalanan tersebut menjadi bagian paling berat dari Duka Pascagempa Flores yang dialami keluarganya. Mereka sebelumnya harus meninggalkan tempat tinggal setelah gempa. Kemudian, mereka menghadapi kondisi kesehatan anak yang terus menurun. Kisah ini juga mengingatkan bahwa dampak bencana tidak selalu berhenti pada kerusakan bangunan. Persoalan kesehatan dapat muncul selama masa pengungsian dan membutuhkan respons yang cepat.
Baca Juga: Kemenlu Buka Suara soal Asap Karhutla yang Berisiko Meluas ke Negara Tetangga
Anak-anak Menjadi Kelompok Rentan Setelah Bencana
Balita memiliki kebutuhan khusus ketika tinggal di tempat pengungsian. Sistem tubuh mereka masih berkembang. Selain itu, anak kecil belum mampu mengenali atau menjelaskan semua keluhan secara jelas. Karena alasan tersebut, pemantauan kesehatan perlu dilakukan secara rutin. Petugas dan keluarga dapat memperhatikan perubahan kondisi anak selama berada di pengungsian. Demam, muntah, diare, kesulitan makan, atau tubuh yang tampak lemah membutuhkan perhatian. Namun, gejala tersebut dapat memiliki banyak penyebab. Pemeriksaan tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk menentukan langkah berikutnya. Selain layanan medis, lingkungan pengungsian juga perlu dibuat senyaman mungkin bagi anak. Air bersih, makanan yang aman, sanitasi, tempat berlindung, dan perlindungan dari serangga merupakan kebutuhan dasar. Dalam respons bencana, kelompok rentan sebaiknya tidak diperlakukan dengan pendekatan yang sama seperti semua pengungsi. Kebutuhan mereka berbeda sehingga perlindungannya juga perlu disesuaikan.
Risiko Pascagempa Tidak Berakhir Ketika Guncangan Mereda
Gempa berlangsung dalam waktu singkat. Namun, dampaknya dapat dirasakan masyarakat selama berhari-hari bahkan lebih lama. Setelah proses evakuasi, tantangan baru biasanya mulai muncul. Warga membutuhkan tempat tinggal sementara, makanan, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan. Selain itu, kepadatan pengungsian dapat membuat pengelolaan kebutuhan menjadi semakin kompleks. Situasi tersebut menunjukkan mengapa respons bencana membutuhkan perencanaan jangka lebih panjang. Fokus awal memang berada pada penyelamatan dan keamanan masyarakat. Setelah itu, perhatian perlu beralih pada kondisi hidup para penyintas. Pos kesehatan, pemantauan kelompok rentan, dan sistem rujukan menjadi bagian penting dalam fase ini. Infrastruktur pendukung juga harus tersedia agar bantuan dapat bergerak dengan cepat. Karena itu, Duka Pascagempa Flores dapat menjadi pengingat bahwa perlindungan masyarakat tidak selesai setelah mereka berhasil mencapai tempat pengungsian. Keselamatan selama berada di sana juga menjadi bagian penting dari penanganan bencana.
Duka Pascagempa Flores Menjadi Pengingat tentang Perlindungan Pengungsi
Kepergian Mario meninggalkan duka bagi keluarga sekaligus menjadi pengingat tentang panjangnya fase pemulihan setelah bencana. Informasi yang tersedia menyebut Mario mengalami sakit dan demam tinggi selama mengungsi. Ia kemudian menjalani perawatan di Nagekeo sebelum dirujuk ke Bajawa. Kondisinya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia. Namun, penyebab medis kematiannya tidak sebaiknya dikaitkan langsung dengan kondisi pengungsian tanpa keterangan resmi. Sikap hati-hati seperti ini penting agar pemberitaan tetap menghormati fakta dan keluarga yang sedang berduka. Di sisi lain, evaluasi fasilitas pengungsian tetap diperlukan. Setiap lokasi darurat perlu memiliki akses terhadap kebutuhan dasar dan layanan kesehatan. Terlebih lagi, anak-anak membutuhkan perlindungan yang lebih spesifik. Pada akhirnya, Duka Pascagempa Flores bukan sekadar cerita tentang satu kehilangan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa respons bencana juga harus menjaga kesehatan dan martabat masyarakat selama menjalani masa pengungsian.
