Beritalogy – Indonesia Merdeka selama 81 tahun membawa perjalanan ekonomi yang panjang dan penuh perubahan. Pembangunan terus berjalan, aktivitas usaha berkembang, dan Indonesia kini memiliki posisi penting dalam perekonomian global. Namun, momentum HUT ke-81 RI juga membuka ruang untuk melihat kondisi masyarakat secara lebih dekat. Salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian adalah kelas menengah. Mereka menjadi penggerak konsumsi, pekerja produktif, pelaku usaha, sekaligus penopang ekonomi domestik. Meski demikian, posisi finansial kelompok ini tidak selalu aman. Pendapatan yang sulit bertambah dapat berhadapan dengan biaya hidup yang terus berubah. Akibatnya, kemampuan menabung dan mempertahankan daya beli ikut mendapat tekanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi tidak cukup dinilai melalui pertumbuhan nasional. Kemampuan keluarga mempertahankan taraf hidup dan memiliki peluang naik kelas juga menjadi ukuran penting dari kemajuan.
Baca Juga: 26 Daerah Masih Kesulitan Bayar Gaji PPPK, Tito Turun Tangan
Posisi Kelas Menengah Terlihat Nyaman, tetapi Sebenarnya Rentan
Kelas menengah sering dianggap memiliki kehidupan yang relatif aman. Mereka mempunyai pendapatan, mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan biasanya tidak termasuk kelompok penerima bantuan sosial utama. Namun, kondisi tersebut dapat menyembunyikan kerentanan finansial. Penghasilan bulanan harus dibagi untuk kebutuhan pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga cicilan. Selain itu, keluarga tetap membutuhkan dana darurat dan tabungan untuk masa depan. Ketika pendapatan tidak berkembang secepat pengeluaran, ruang finansial menjadi semakin sempit. Karena itu, satu guncangan ekonomi dapat membawa dampak besar. Kehilangan pekerjaan, berkurangnya pendapatan, atau munculnya kebutuhan mendadak bisa menggerus tabungan dengan cepat. Dengan demikian, kelas menengah bukan hanya membutuhkan pendapatan yang cukup. Mereka juga memerlukan ketahanan finansial agar tidak mudah turun kelas ketika kondisi ekonomi berubah.
Jumlah Kelas Menengah Menyusut dalam Lima Tahun
Perkembangan jumlah kelas menengah memberikan gambaran mengenai tekanan tersebut. Studi LPEM FEB UI yang dikutip dalam materi sumber mencatat sekitar 60 juta penduduk masuk kelompok kelas menengah pada 2018. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 23 persen populasi Indonesia. Namun, pada 2023 angkanya turun menjadi sekitar 52 juta orang atau 18,8 persen populasi. Dengan kata lain, jutaan masyarakat tidak lagi berada dalam kelompok yang sama selama periode tersebut. Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai kondisi itu perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, kelas menengah bukan hanya sulit naik tingkat, tetapi juga menghadapi risiko penurunan kemampuan ekonomi. Perubahan tersebut penting karena kelas menengah memiliki kontribusi besar terhadap konsumsi domestik. Jika kelompok ini melemah, dampaknya dapat menjalar menuju aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Pertumbuhan Ekonomi Belum Selalu Terasa di Tingkat Rumah Tangga
Ekonomi Indonesia mampu bertahan dengan pertumbuhan di kisaran 5 persen. Dari perspektif makro, capaian tersebut menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang tetap bergerak. Namun, angka pertumbuhan tidak selalu sama dengan pengalaman setiap keluarga. Didik menilai sebagian manfaat pertumbuhan masih lebih kuat dirasakan kelompok ekonomi atas. Sementara itu, sebagian kelas menengah menghadapi tekanan terhadap tabungan dan daya beli. Perbedaan tersebut memperlihatkan pentingnya melihat kualitas pertumbuhan. Produk domestik bruto memang menjadi indikator utama perekonomian. Akan tetapi, pendapatan riil, kualitas pekerjaan, serta kemampuan keluarga membangun aset juga tidak kalah penting. Apabila ekonomi tumbuh tetapi rumah tangga semakin sulit menyisihkan pendapatan, terdapat persoalan yang perlu diperhatikan. Oleh sebab itu, pertumbuhan yang berkualitas seharusnya menciptakan lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk memperbaiki taraf hidup secara berkelanjutan.
Tabungan Masyarakat Memberikan Sinyal yang Menarik
Perubahan pada rekening tabungan turut memberikan gambaran mengenai ketahanan finansial masyarakat. Berdasarkan data yang disampaikan Didik, jumlah rekening dengan saldo hingga Rp100 juta naik dari sekitar 292 juta pada 2019 menjadi 666 juta rekening. Namun, rata-rata saldonya disebut turun dari Rp2,9 juta menjadi Rp2,7 juta. Sementara itu, kondisi berbeda terlihat pada rekening bernilai besar. Jumlah rekening dengan saldo di atas Rp5 miliar disebut meningkat dari sekitar 8.500 menjadi 129.000 rekening. Rata-rata saldonya juga naik dari Rp24 miliar menjadi sekitar Rp35 miliar. Tentu, satu orang dapat memiliki lebih dari satu rekening. Karena itu, data rekening tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah penduduk. Meski demikian, perubahan rata-rata simpanan tetap memberikan bahan penting untuk membaca kondisi ekonomi. Bagi keluarga kelas menengah, tabungan yang terbatas dapat mengurangi kemampuan menghadapi situasi darurat.
Daya Beli Melemah Bisa Mengubah Keputusan Keluarga
Ketika kondisi keuangan terasa kurang aman, keluarga biasanya mulai mengatur kembali prioritas pengeluaran. Pembelian kendaraan, perangkat elektronik, rumah, atau barang tahan lama dapat ditunda. Selain itu, masyarakat cenderung meningkatkan kehati-hatian ketika mengambil cicilan baru. Perubahan perilaku tersebut sangat wajar. Namun, apabila terjadi secara luas, dampaknya dapat dirasakan sektor usaha. Konsumsi rumah tangga merupakan bagian penting dari aktivitas ekonomi Indonesia. Karena itu, kemampuan kelas menengah dalam berbelanja ikut menentukan pergerakan permintaan domestik. Tekanan finansial juga dapat memengaruhi keputusan jangka panjang. Misalnya, keluarga mungkin meninjau ulang biaya pendidikan, kesehatan, atau investasi untuk meningkatkan keterampilan. Pada titik inilah daya beli tidak lagi sekadar persoalan konsumsi. Daya beli juga berkaitan dengan kemampuan keluarga merencanakan masa depan dengan lebih percaya diri.
Kelas Menengah yang Kuat Membentuk Ekonomi Lebih Seimbang
Didik menggambarkan struktur ekonomi yang ideal seperti bentuk belah ketupat. Dalam struktur tersebut, kelompok kelas menengah memiliki porsi yang besar. Sebaliknya, struktur berbentuk segitiga menunjukkan konsentrasi ekonomi yang lebih kuat pada kelompok atas. Gagasan ini relevan karena kelas menengah memainkan banyak peran sekaligus. Mereka merupakan konsumen, tenaga kerja terampil, pembayar pajak, investor ritel, hingga pelaku usaha. Oleh sebab itu, pertumbuhan kelas menengah dapat memperkuat fondasi pasar domestik. Namun, membangun kelompok tersebut tidak cukup dengan mencegah masyarakat jatuh miskin. Mobilitas ekonomi juga harus terbuka. Pekerjaan produktif, pendidikan berkualitas, peningkatan keterampilan, serta kesempatan berusaha menjadi bagian penting dari proses tersebut. Dengan fondasi yang lebih kuat, keluarga tidak hanya mampu bertahan. Mereka juga mempunyai ruang untuk meningkatkan pendapatan dan membangun aset dalam jangka panjang.
Industri dan Ekspor Dapat Membuka Peluang Pendapatan Baru
Indonesia memiliki pasar domestik yang besar. Namun, mengandalkan konsumsi dalam negeri saja memiliki keterbatasan. Karena itu, Didik menilai perdagangan internasional dan industri berorientasi ekspor perlu mendapat perhatian lebih besar. Strategi tersebut dapat membuka pasar baru bagi produk Indonesia. Selain itu, ekspor berpotensi menciptakan pekerjaan dan meningkatkan penerimaan devisa. Meski begitu, keberhasilan tidak terjadi secara otomatis. Industri membutuhkan tenaga kerja produktif, teknologi, infrastruktur, logistik yang efisien, dan kepastian usaha. Indonesia juga memiliki peluang memperbesar nilai tambah melalui pengolahan produk di dalam negeri. Dengan demikian, pertumbuhan tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah. Industri bernilai tambah dapat menciptakan pekerjaan dengan produktivitas lebih tinggi. Jika proses tersebut berjalan konsisten, peningkatan pendapatan pekerja dapat ikut memperkuat kelas menengah.
Baca Juga: Jelang HUT ke-81 RI, PLN Siagakan 45 Ribu Personel Sambil Pulihkan Listrik NTT
Perbandingan dengan Korea Selatan Memberikan Perspektif Berbeda
Perjalanan ekonomi Indonesia sebenarnya telah menunjukkan kemajuan besar, terutama setelah krisis 1998. Stabilitas ekonomi membaik dan Indonesia kini menjadi anggota G20. Namun, perbandingan dengan negara lain memperlihatkan ruang peningkatan yang masih terbuka. Dalam materi sumber, Didik menyoroti Korea Selatan sebagai salah satu contoh. Pada dekade 1960-an, tingkat pendapatan kedua negara tidak berbeda sejauh sekarang. Kini, pendapatan per kapita Korea Selatan disebut berada di kisaran USD36.000. Sementara itu, Indonesia masih berada sekitar USD5.000. Tentu, perjalanan kedua negara memiliki kondisi sejarah dan struktur ekonomi yang berbeda. Namun, Korea Selatan memberikan contoh mengenai dampak industrialisasi, teknologi, pendidikan, dan produktivitas. Indonesia tidak harus mengikuti jalur yang sama. Meski demikian, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas menjadi unsur penting untuk mendorong pendapatan masyarakat dalam jangka panjang.
Indonesia Merdeka Perlu Diikuti Kemerdekaan Ekonomi Rumah Tangga
Tema HUT ke-81 RI, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur,” memiliki hubungan erat dengan kondisi ekonomi masyarakat. Setelah Indonesia Merdeka selama lebih dari delapan dekade, kesejahteraan tentu tidak hanya diukur dari besarnya perekonomian nasional. Masyarakat juga membutuhkan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari. Bagi keluarga kelas menengah, keamanan tersebut dapat berarti pekerjaan yang stabil, pendapatan yang berkembang, tabungan memadai, dan akses terhadap pendidikan berkualitas. Menurut saya, indikator semacam ini membuat konsep kemakmuran terasa lebih nyata. Sebuah keluarga akan lebih percaya diri menghadapi masa depan ketika memiliki dana darurat dan kesempatan meningkatkan pendapatan. Sebaliknya, kekhawatiran turun kelas setelah satu guncangan menunjukkan ketahanan ekonomi masih perlu diperkuat. Karena itu, momentum kemerdekaan dapat menjadi refleksi mengenai kualitas kesejahteraan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Masa Depan Indonesia Ditentukan oleh Kemampuan Masyarakat Naik Kelas
Perjalanan menuju Indonesia berpendapatan tinggi membutuhkan kelas menengah yang terus berkembang. Untuk mencapainya, kebijakan ekonomi perlu menciptakan jalur mobilitas yang lebih luas. Pertumbuhan lapangan kerja berkualitas menjadi salah satu fondasi utama. Selain itu, peningkatan produktivitas dan keterampilan tenaga kerja perlu berjalan bersama penguatan industri. Masyarakat juga membutuhkan kesempatan membangun tabungan dan aset tanpa terus tertekan kebutuhan sehari-hari. Jika fondasi tersebut terbentuk, kelas menengah dapat kembali menjadi mesin pertumbuhan yang kuat. Pada usia Indonesia Merdeka yang ke-81, tantangannya bukan sekadar mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan pertumbuhan tersebut membuka kesempatan bagi lebih banyak keluarga untuk maju. Ketika masyarakat mampu menjaga daya beli, membangun tabungan, dan naik kelas secara berkelanjutan, kemajuan ekonomi akan terasa lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari.
