Beritalogy – Keputusan pulang ke NTT seharusnya menjadi awal perjalanan bahagia bagi Selviana Ambu Kaka. Perempuan berusia 24 tahun itu baru kembali dari Jakarta bersama calon suaminya, Fabianus Dowa. Keduanya datang ke Sumba Barat Daya untuk bertemu keluarga dan mempersiapkan prosesi peminangan. Namun, rencana tersebut berubah menjadi duka hanya beberapa hari setelah mereka tiba. Selviana tewas setelah diterkam buaya di Sungai Bondo Kodi, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Peristiwa itu semakin memilukan karena terjadi di depan Fabianus dan saudarinya. Sebelumnya, keluarga tengah membicarakan berbagai kebutuhan untuk acara peminangan. Bahkan, jadwal baru sudah direncanakan setelah prosesi tersebut sempat ditunda. Akan tetapi, seluruh persiapan itu berhenti setelah kejadian di sungai mengubah suasana keluarga dalam waktu singkat.
Baca Juga: Pasokan Gas Dipangkas, Politisi Singapura Ancam Potong Kabel Internet RI
Selviana Baru Tiga Hari Berada di Sumba Barat Daya
Selviana diketahui berasal dari Desa Hombarande, Kecamatan Kodi. Sebelum kejadian, ia merantau ke Jakarta. Kepala Desa Bondo Kodi, Kristoforus Rehi Mabaha, menjelaskan bahwa Selviana baru sekitar tiga hari berada di daerah tersebut. Ia pulang ke NTT bersama Fabianus dengan tujuan yang cukup jelas. Mereka ingin mempersiapkan tahapan hubungan menuju pernikahan melalui prosesi adat. Karena itu, hari-hari pertama kepulangannya diisi dengan pertemuan bersama keluarga. Suasana tersebut awalnya berjalan seperti kepulangan pada umumnya. Ada pertemuan, pembicaraan mengenai acara, serta persiapan yang harus diselesaikan kedua keluarga. Tidak ada yang membayangkan perjalanan tersebut akan berakhir tragis. Dalam hitungan hari, keluarga yang sebelumnya membicarakan peminangan justru harus menghadapi kehilangan mendadak.
Peminangan Sempat Dijadwalkan pada Akhir Oktober
Prosesi peminangan Selviana dan Fabianus awalnya direncanakan berlangsung pada Jumat, 30 Oktober 2026. Namun, persiapan adat belum sepenuhnya selesai. Berdasarkan keterangan kepala desa, ternak yang akan dibawa keluarga Fabianus sebagai bagian dari mahar masih kurang. Oleh sebab itu, kedua keluarga kembali membicarakan waktu pelaksanaan acara. Keluarga Fabianus kemudian mendatangi rumah orang tua Selviana pada 23 Oktober. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan untuk mengundur prosesi hingga 7 November 2026. Penundaan memberikan waktu tambahan bagi pihak keluarga calon mempelai pria untuk memenuhi kebutuhan adat. Situasi tersebut sebenarnya tidak mengubah rencana utama pasangan itu. Selviana tetap berada di kampung bersama calon suaminya. Mereka hanya perlu menunggu beberapa hari lebih lama sebelum prosesi peminangan dapat berlangsung sesuai kesepakatan keluarga.
Setelah Urusan Keluarga Selesai, Mereka Pergi ke Sungai
Setelah pembicaraan mengenai peminangan selesai, Selviana dan Fabianus kembali ke rumah Fabianus di Desa Waikaninyo, Kecamatan Kodi Bangedo. Pada masa menunggu tersebut, muncul rencana pergi ke Sungai Bondo Kodi. Menurut Kristoforus, Selviana memang sudah ingin mandi di lokasi itu sejak awal kedatangannya. Namun, berbagai urusan keluarga membuat keinginan tersebut baru dapat dilakukan kemudian. Selviana akhirnya pergi bersama Fabianus dan saudari Fabianus. Selain mandi, mereka membawa pakaian untuk dicuci. Aktivitas tersebut terlihat sederhana dan tidak berbeda dengan kegiatan harian masyarakat di sekitar sungai. Selviana lebih dahulu menyelesaikan cucian dan kemudian mandi. Setelah itu, ia masih berada di sekitar tepian air. Pada saat inilah keadaan yang sebelumnya tenang mulai berubah menjadi tragedi.
Serangan Terjadi Menjelang Magrib di Sungai Bondo Kodi
Waktu mulai bergerak menuju magrib ketika Selviana selesai mandi dan mencuci. Berdasarkan keterangan kepala desa, ia kemudian berdiri sambil menyikat gigi. Posisi Selviana menghadap ke arah jalan raya. Sementara itu, bagian belakang tubuhnya mengarah ke kolam utama. Kondisi tersebut membuatnya tidak dapat melihat secara langsung apa yang bergerak dari arah air. Beberapa saat kemudian, seekor buaya muncul dan melakukan serangan. Kejadian berlangsung begitu cepat sehingga orang-orang di lokasi hanya memiliki sedikit waktu untuk bereaksi. Serangan buaya memang sering mengandalkan unsur kejutan. Predator ini dapat berada di air dengan sebagian besar tubuh tersembunyi. Karena itu, keberadaannya terkadang sulit diketahui dari tepian. Kondisi cahaya yang semakin berkurang menjelang malam juga dapat membuat pengamatan terhadap permukaan air menjadi lebih sulit.
Buaya Berukuran Besar Menyerang dari Arah Belakang
Menurut keterangan yang disampaikan kepala desa, buaya tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar lima meter dan berjenis kelamin jantan. Satwa itu menyerang Selviana dari arah belakang dan menggigit bagian paha kirinya. Setelah itu, buaya menyeret Selviana menuju kolam. Peristiwa tersebut terjadi dalam waktu singkat. Karakter buaya sebagai predator penyergap memang membuat serangan dapat berlangsung mendadak. Satwa ini mampu menunggu dalam posisi nyaris tidak terlihat sebelum bergerak cepat dari air. Oleh sebab itu, berada dekat tepian pada habitat buaya memiliki risiko tinggi. Peristiwa Selviana juga menunjukkan bahwa kewaspadaan tidak cukup hanya dengan memperhatikan permukaan air. Informasi mengenai keberadaan buaya di suatu kawasan perlu menjadi pertimbangan utama sebelum masyarakat melakukan aktivitas seperti mandi, mencuci, memancing, atau mengambil air.
Baca Juga: Air Berkarat Kini Lebih Layak, Unpad Bangun Instalasi di Fakfak
Calon Suami Menyaksikan Tragedi Itu dari Dekat
Fabianus berada di lokasi ketika Selviana diterkam. Saudari Fabianus juga menyaksikan kejadian tersebut. Situasi ini membuat tragedi terasa semakin berat. Hanya beberapa hari sebelumnya, Fabianus dan Selviana masih melakukan perjalanan bersama dari Jakarta. Mereka pulang ke NTT untuk mempersiapkan salah satu tahap penting sebelum pernikahan. Namun, rencana membangun kehidupan bersama berubah dalam hitungan detik. Selain kehilangan orang terdekat, menyaksikan serangan secara langsung dapat meninggalkan dampak psikologis yang mendalam. Karena itu, sebuah tragedi seperti ini tidak hanya berbicara mengenai korban. Keluarga dan saksi yang berada di lokasi juga menghadapi pengalaman traumatis. Terlebih lagi, kejadian berlangsung ketika seluruh keluarga sedang berada dalam suasana mempersiapkan peminangan.
Habitat Buaya Membutuhkan Kewaspadaan Lebih Tinggi
Kejadian di Sungai Bondo Kodi menjadi pengingat mengenai risiko beraktivitas di habitat buaya. Satwa ini memiliki kemampuan kamuflase yang sangat baik di dalam air. Mata dan lubang hidungnya dapat berada di atas permukaan, sementara sebagian besar tubuh tetap tersembunyi. Oleh karena itu, keberadaan buaya tidak selalu mudah diketahui. Masyarakat sebaiknya menghindari tepian sungai apabila kawasan tersebut memiliki riwayat kemunculan buaya. Aktivitas juga perlu dibatasi saat cahaya mulai berkurang. Selain itu, papan peringatan dan informasi mengenai titik rawan dapat membantu masyarakat mengenali bahaya. Menurut saya, edukasi semacam ini sangat penting di kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat satwa liar. Pencegahan sederhana dapat mengurangi kemungkinan manusia dan buaya berada dalam jarak yang terlalu dekat.
Kepulangan yang Seharusnya Bahagia Berubah Menjadi Duka
Kisah Selviana meninggalkan ironi yang sulit diabaikan. Ia pulang ke NTT bukan karena keadaan darurat. Sebaliknya, kepulangannya membawa rencana untuk melangkah menuju kehidupan baru bersama Fabianus. Keluarga telah membicarakan mahar, jadwal peminangan, dan berbagai kebutuhan adat. Bahkan, penundaan acara hingga awal November hanya dimaksudkan agar persiapan dapat diselesaikan dengan baik. Namun, seluruh rencana tersebut berhenti setelah tragedi di Sungai Bondo Kodi. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa aktivitas di kawasan habitat satwa liar membutuhkan kewaspadaan tinggi. Informasi mengenai titik rawan sebaiknya mudah diketahui masyarakat, terutama oleh orang yang baru kembali dari perantauan. Dengan begitu, risiko pertemuan berbahaya antara manusia dan satwa liar dapat ditekan tanpa mengabaikan kehidupan masyarakat yang bergantung pada lingkungan sekitar.
