Beritalogy – Kunjungan Presiden Jerman ke China berlangsung ketika hubungan Beijing dan Eropa memasuki fase yang semakin rumit. Frank-Walter Steinmeier kembali mengunjungi Negeri Tirai Bambu setelah sekitar delapan tahun. Namun, dunia yang ia temui sekarang jauh berbeda dibandingkan kunjungan sebelumnya. Persaingan teknologi meningkat, perang Ukraina belum selesai, dan ketergantungan ekonomi mulai dipandang sebagai risiko strategis. Oleh karena itu, perjalanan Steinmeier pada 26 hingga 31 Oktober 2026 memiliki arti lebih dari sekadar kunjungan kenegaraan. Jerman ingin menjaga komunikasi dengan Beijing tanpa kembali membangun ketergantungan yang terlalu besar. Pada saat yang sama, Berlin tetap membutuhkan hubungan ekonomi yang stabil dengan China. Posisi tersebut membuat diplomasi Steinmeier berjalan di jalur yang cukup sempit. Ia perlu menjaga kepentingan perdagangan, tetapi juga membawa berbagai kekhawatiran Eropa ke meja pembicaraan.
Baca Juga: Erdogan Pecat Penasihat Senior Usai Kritik Larangan Jilbab Azerbaijan
Delapan Tahun Membawa Banyak Perubahan bagi Kedua Negara
Delapan tahun merupakan waktu yang panjang dalam hubungan internasional. Selama periode tersebut, posisi China dalam ekonomi global semakin kuat. Sementara itu, Jerman juga mengubah cara pandangnya terhadap hubungan perdagangan. Dahulu, hubungan ekonomi yang erat dianggap dapat membawa stabilitas politik. Pendekatan itu dikenal melalui gagasan Wandel durch Handel atau perubahan melalui perdagangan. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir membuat Berlin lebih berhati-hati. Ketergantungan pada satu negara kini dianggap dapat menciptakan risiko besar. Pelajaran dari hubungan energi dengan Rusia menjadi salah satu faktor yang mengubah pandangan tersebut. Karena itu, Jerman tidak ingin mengulangi pola serupa dengan China. Meski begitu, Berlin juga tidak memilih pemisahan ekonomi secara total. China masih menjadi pasar penting bagi banyak perusahaan Jerman. Inilah sebabnya kunjungan Steinmeier membawa pesan yang kompleks. Kerja sama tetap dibutuhkan, tetapi ketergantungan harus dikendalikan.
Industri Otomotif Memperlihatkan Dilema Jerman dengan Jelas
Industri otomotif menjadi contoh paling mudah untuk memahami hubungan Jerman dan China. Selama bertahun-tahun, produsen mobil Jerman memperoleh keuntungan besar dari pasar China. Karena itu, kunjungan Steinmeier ke fasilitas Volkswagen di Hefei memiliki makna tersendiri. Namun, persaingan telah berubah dengan cepat. Produsen kendaraan China kini berkembang pesat dan mulai menjadi pesaing serius di Eropa. Kemajuan tersebut sangat terlihat pada kendaraan listrik dan teknologi baterai. Akibatnya, perusahaan Jerman menghadapi situasi yang unik. Mereka membutuhkan China sebagai pasar, tetapi juga harus bersaing dengan perusahaan China di pasar global. Selain itu, Eropa menyoroti kapasitas produksi China yang dinilai dapat memberikan tekanan terhadap produsen lokal. Kondisi tersebut membuat kebijakan perdagangan semakin rumit. Jerman harus menjaga akses ke pasar China tanpa melemahkan industrinya sendiri. Dengan demikian, diplomasi ekonomi menjadi bagian penting dalam perjalanan Steinmeier.
Berlin Memilih Derisking daripada Memutus Hubungan Ekonomi
Strategi Jerman terhadap China sekarang banyak bergerak menuju konsep derisking. Pendekatan ini tidak sama dengan memutus hubungan ekonomi. Sebaliknya, Berlin ingin mengurangi ketergantungan pada sektor yang dianggap terlalu sensitif. Bahan baku kritis, teknologi, baterai, dan rantai pasok menjadi beberapa bidang yang mendapat perhatian. Jerman juga semakin aktif mencari mitra alternatif di kawasan Indo-Pasifik. Strategi tersebut memberikan pilihan lebih luas jika terjadi gangguan perdagangan dengan China. Namun, penerapannya membutuhkan keseimbangan. Pengurangan risiko yang terlalu agresif dapat merugikan perusahaan Jerman yang telah lama beroperasi di pasar China. Sebaliknya, mempertahankan ketergantungan lama juga dapat menciptakan masalah pada masa depan. Oleh sebab itu, perjalanan Presiden Jerman ke China menjadi bagian dari upaya mencari titik tengah. Berlin ingin tetap menjadi mitra Beijing, tetapi dengan posisi ekonomi yang lebih tahan terhadap perubahan geopolitik.
Friedrich Merz Membuka Jalur Lain di Kawasan Indo-Pasifik
Pada saat Steinmeier berada di China, Kanselir Friedrich Merz menjalankan agenda berbeda di kawasan Indo-Pasifik. Ia melakukan perjalanan ke Jepang, Singapura, dan Korea Selatan bersama sejumlah perwakilan dunia usaha. Agenda tersebut membahas daya saing, teknologi, pertahanan, serta akses terhadap bahan baku kritis. Dua perjalanan yang berlangsung hampir bersamaan ini memberikan pesan diplomatik yang menarik. Jerman tetap membuka pintu komunikasi dengan Beijing. Namun, pada saat yang sama, Berlin memperkuat hubungan dengan negara Asia lainnya. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi kini menjadi bagian penting dari kebijakan luar negeri Jerman. Strateginya bukan mengganti China dengan satu negara baru. Sebaliknya, Jerman ingin memiliki lebih banyak pilihan ekonomi dan politik. Langkah tersebut dapat mengurangi risiko jika hubungan dengan Beijing mengalami ketegangan. Bagi China, pesan Berlin juga cukup jelas. Kemitraan tetap tersedia, tetapi Jerman tidak ingin lagi terlalu bergantung pada satu pusat ekonomi.
Baca Juga: Ribuan Warga Ceko Turun ke Jalan, Kebijakan Media Pemerintah Picu Amarah
Isu Hak Asasi Manusia Tetap Menjadi Bagian Sensitif
Selain perdagangan, hubungan Jerman dan China juga menghadapi persoalan hak asasi manusia. Ketegangan meningkat pada 2021 ketika Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat China. Sanksi tersebut berkaitan dengan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia terhadap kelompok minoritas Uighur. Beijing kemudian membalas dengan memberikan pembatasan kepada sejumlah politikus, peneliti, dan lembaga Eropa. MERICS termasuk lembaga yang terkena langkah tersebut. Menariknya, Direktur MERICS Mikko Huotari dijadwalkan menjadi bagian dari rombongan Steinmeier. Kehadirannya dapat dibaca sebagai pesan politik tersendiri dari Berlin. Jerman ingin menunjukkan bahwa sanksi terhadap lembaga penelitian Eropa tidak membuat komunikasi akademik berhenti. Namun, isu hak asasi manusia diperkirakan tidak menjadi satu-satunya fokus. Steinmeier dikenal cukup pragmatis dalam menjalankan diplomasi dengan Beijing. Karena itu, pembahasan kemungkinan dilakukan dengan tetap mempertahankan ruang dialog.
Perang Ukraina Bisa Mengubah Nada Pembicaraan
Perang Ukraina berpotensi menjadi salah satu topik paling serius selama kunjungan tersebut. Jerman melihat China sebagai negara yang memiliki pengaruh besar terhadap Rusia. Hubungan Beijing dan Moskow membuat Eropa berharap China dapat memainkan peran lebih besar dalam mendorong penyelesaian konflik. Namun, posisi China selama perang juga menimbulkan pertanyaan di sejumlah negara Eropa. Beijing mencoba mempertahankan hubungan dekat dengan Rusia sambil menampilkan diri sebagai pendukung penyelesaian politik. Bagi Jerman, keseimbangan tersebut belum tentu cukup. Berlin ingin negara dengan pengaruh besar mengambil tanggung jawab lebih besar terhadap stabilitas internasional. Steinmeier dapat membawa pesan tersebut ketika berbicara di China. Selain membahas Ukraina, pernyataan mengenai penggunaan kekuatan juga mempunyai makna lebih luas. Dalam diplomasi, pesan mengenai satu konflik sering berkaitan dengan kekhawatiran terhadap konflik lain yang dapat muncul pada masa depan.
Taiwan Berada di Balik Kekhawatiran terhadap Stabilitas Asia
Ketika pembicaraan menyentuh keamanan internasional, Taiwan sulit benar-benar dipisahkan dari hubungan dengan Beijing. Jerman dan negara Eropa lainnya memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas Selat Taiwan. Kawasan tersebut berperan penting dalam perdagangan dunia dan rantai pasok teknologi. Karena itu, konflik akan membawa dampak yang jauh melampaui Asia Timur. Steinmeier kemungkinan tetap menggunakan bahasa diplomatik ketika menyentuh isu sensitif tersebut. Namun, pesan mengenai penghormatan terhadap kedaulatan dan penyelesaian konflik secara damai dapat memiliki arti yang lebih luas. Jerman berkepentingan menjaga jalur perdagangan tetap terbuka. Selain itu, industri Eropa bergantung pada banyak komponen teknologi yang berasal dari kawasan Asia. Oleh sebab itu, stabilitas regional bukan sekadar isu politik bagi Berlin. Ada kepentingan ekonomi besar di belakangnya. Situasi tersebut membuat dialog dengan Beijing tetap penting meskipun Jerman sedang menjalankan strategi diversifikasi.
Pertemuan Xi Jinping Menjadi Ujian Diplomasi Steinmeier
Puncak kunjungan Presiden Jerman ke China berada di Beijing. Steinmeier dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping, yang telah dikenalnya selama hampir dua dekade. Pertemuan juga direncanakan dengan Perdana Menteri Li Qiang dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji. Dialog tersebut akan menjadi kesempatan untuk melihat seberapa jauh kedua negara masih dapat menemukan kepentingan bersama. Jerman membutuhkan hubungan ekonomi yang stabil dengan China. Sementara itu, Beijing memiliki kepentingan menjaga hubungan dengan salah satu kekuatan ekonomi terbesar Eropa. Namun, hubungan mereka kini membawa lebih banyak lapisan dibandingkan masa lalu. Perdagangan, teknologi, Ukraina, keamanan regional, dan persaingan industri saling berkaitan. Karena itu, keberhasilan perjalanan Steinmeier tidak hanya dapat diukur melalui kesepakatan baru. Kemampuan mempertahankan komunikasi di tengah perbedaan juga menjadi hasil penting. Diplomasi Jerman kini tampaknya bergerak menuju prinsip sederhana: tetap berbicara dengan Beijing sambil memperluas pilihan di luar China.
