Beritalogy – Bed Rotting menjadi istilah populer untuk menggambarkan kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur saat seseorang tidak sedang sakit. Biasanya, seseorang memilih bermain ponsel, menonton film, membaca, atau sekadar rebahan tanpa aktivitas berarti. Setelah melewati hari yang melelahkan, pilihan tersebut memang terasa nyaman. Tubuh seperti mendapat kesempatan untuk berhenti dari rutinitas yang padat. Namun, istirahat yang terlalu lama belum tentu menghasilkan pemulihan yang optimal. Jika dilakukan berulang kali, kebiasaan tersebut justru dapat memengaruhi pola tidur dan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, persoalannya bukan sekadar berapa lama seseorang rebahan. Alasan, frekuensi, serta dampaknya terhadap kehidupan juga perlu diperhatikan. Istirahat tetap penting, tetapi tubuh membutuhkan keseimbangan antara tidur, bergerak, bersosialisasi, dan menjalani aktivitas harian.
Baca Juga: Sering Terbangun Malam untuk Buang Air Kecil, Kenali Penyebab dan Tandanya
Tren Bed Rotting Banyak Menarik Perhatian Generasi Muda
Popularitas Bed Rotting semakin terlihat di kalangan generasi muda. Survei American Academy of Sleep Medicine pada 2024 menemukan bahwa lebih dari satu dari 10 responden di Amerika Serikat pernah mencoba kebiasaan tersebut. Angkanya lebih tinggi pada Gen Z. Sekitar seperempat responden dari generasi itu mengaku pernah melakukan bed rotting. Fenomena ini menarik karena muncul ketika banyak orang menghadapi rutinitas digital yang semakin padat. Pekerjaan, pendidikan, media sosial, dan komunikasi daring dapat membuat pikiran terasa terus aktif. Akibatnya, tempat tidur menjadi ruang yang dianggap paling mudah untuk menjauh sejenak dari berbagai tuntutan. Meski demikian, tren populer tidak selalu cocok diterapkan tanpa batas. Waktu istirahat yang awalnya terasa menyenangkan dapat berubah menjadi pola kurang sehat ketika seseorang semakin sulit kembali beraktivitas.
Rebahan Sesekali Tetap Bisa Memberikan Ruang untuk Pulih
Menghabiskan waktu untuk beristirahat tentu tidak selalu berdampak buruk. Setelah menghadapi tekanan atau aktivitas panjang, tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan energi. Najamah Davis, seorang licensed clinical social worker, menjelaskan bahwa istirahat yang dilakukan secara sengaja di tempat aman dan nyaman dapat membantu proses pemulihan sistem saraf. Selain itu, konselor kesehatan mental Veronica Lichtenstein menilai bed rotting dalam jangka pendek dapat menjadi jeda ketika seseorang merasa kewalahan. Dengan kata lain, berada di tempat tidur sesekali dapat menjadi bagian dari proses istirahat. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada durasi dan kebiasaan seseorang. Jika rebahan membuat tubuh terasa lebih segar dan seseorang dapat kembali beraktivitas, waktu tersebut mungkin memang berfungsi sebagai jeda. Sebaliknya, perhatian diperlukan ketika seseorang terus memperpanjang waktu di kasur dan mulai meninggalkan rutinitas penting.
Terlalu Lama Terjaga di Kasur Bisa Mengganggu Tidur
Tempat tidur idealnya menjadi sinyal bagi tubuh bahwa waktu istirahat telah tiba. Namun, Bed Rotting dapat membuat hubungan tersebut menjadi kurang jelas. Psikolog klinis Kelly Baron, yang berkecimpung dalam bidang behavioral sleep medicine, menjelaskan bahwa terlalu banyak menghabiskan waktu dalam keadaan terjaga di tempat tidur dapat menciptakan hubungan negatif dengan kasur. Misalnya, seseorang terbiasa bekerja, bermain gim, menonton film, atau menggunakan media sosial dari tempat tidur. Akibatnya, otak tidak selalu menghubungkan kasur dengan aktivitas tidur. Kebiasaan tersebut berpotensi membuat rutinitas malam menjadi kurang teratur. Karena itu, menjaga fungsi tempat tidur terutama untuk tidur dapat membantu membangun pola yang lebih konsisten. Sementara untuk bersantai, sofa, kursi nyaman, atau ruang lain dapat menjadi pilihan.
Kebiasaan Bermain Ponsel Dapat Memperpanjang Waktu Rebahan
Ponsel sering menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari bed rotting. Seseorang mungkin berniat membuka media sosial selama beberapa menit. Namun, tanpa terasa, aktivitas tersebut berlangsung jauh lebih lama. Selain membuat waktu rebahan bertambah, penggunaan perangkat elektronik menjelang tidur juga dapat mempertahankan stimulasi mental. Terlebih lagi, terlalu lama berada di dalam kamar dapat mengurangi paparan cahaya alami pada siang hari. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ritme sirkadian, yaitu sistem biologis yang membantu mengatur siklus tidur dan bangun. Oleh sebab itu, menghabiskan waktu seharian di tempat tidur belum tentu membuat seseorang memperoleh tidur berkualitas. Tubuh mungkin tidak banyak bergerak, tetapi pikiran tetap menerima rangsangan dari berbagai konten digital. Membatasi waktu layar dan mendapatkan cahaya alami dapat membantu menjaga rutinitas harian tetap lebih teratur.
Tubuh Tetap Membutuhkan Gerakan Setiap Hari
Dampak Bed Rotting tidak hanya berkaitan dengan kualitas tidur. Tubuh juga membutuhkan gerakan secara teratur agar tetap nyaman menjalani aktivitas. Berada dalam posisi yang sama selama berjam-jam dapat membuat tubuh terasa kaku. Selain itu, seseorang mungkin merasa energinya semakin rendah setelah terlalu lama tidak bergerak. Kondisi tersebut dapat menciptakan pola yang sulit diputus. Semakin lama tubuh pasif, semakin berat rasanya untuk mulai melakukan aktivitas. Meski begitu, mengatasinya tidak harus dimulai dengan olahraga berat. Berdiri selama beberapa menit, melakukan peregangan, membuka tirai, atau berjalan di sekitar rumah sudah menjadi langkah sederhana. Aktivitas ringan seperti ini dapat membantu seseorang beralih dari kondisi pasif menuju rutinitas yang lebih aktif. Kuncinya adalah melakukan perubahan secara bertahap tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri.
Baca Juga: Gigi Berlubang hingga Ompong Masih Jadi Masalah Kesehatan Mulut
Waspadai Ketika Bed Rotting Berubah Menjadi Pelarian
Ada perbedaan antara memilih istirahat dan merasa terus ingin menghindari aktivitas sehari-hari. Najamah Davis mengingatkan bahwa Bed Rotting dapat menjadi masalah ketika berubah menjadi bentuk pelarian. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain kesulitan meninggalkan tempat tidur, mengabaikan kebutuhan dasar, serta menjauh dari interaksi sosial. Pekerjaan atau tanggung jawab sehari-hari juga dapat mulai terbengkalai. Namun, kondisi tersebut tidak tepat jika langsung dianggap sebagai rasa malas. Ada banyak alasan yang dapat membuat seseorang kehilangan energi atau motivasi. Karena itu, pola yang berlangsung lama perlu diperhatikan secara lebih serius. Jika kebiasaan berada di tempat tidur terus mengganggu aktivitas, hubungan sosial, atau kemampuan menjalani rutinitas dasar, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat untuk memahami penyebabnya.
Mengurangi Kebiasaan Rebahan Bisa Dimulai Perlahan
Mengubah kebiasaan bed rotting tidak membutuhkan perubahan ekstrem dalam satu hari. Justru, langkah kecil sering lebih mudah dilakukan secara konsisten. Davis menyarankan beberapa aktivitas sederhana, seperti membuka tirai, melakukan peregangan, memutar musik, atau berpindah dari kasur ke sofa. Sementara itu, Lichtenstein menyarankan penggunaan timer untuk memberi batas pada waktu bersantai. Misalnya, seseorang dapat menyediakan sekitar 20 menit untuk rebahan sebelum bangun dan melakukan satu aktivitas ringan. Cara tersebut membantu menciptakan batas antara waktu istirahat dan aktivitas. Selain itu, bersantai di tempat lain dapat menjaga hubungan antara kasur dan tidur. Pendekatan ini bukan tentang melarang seseorang menikmati waktu santai. Sebaliknya, tujuannya adalah membuat istirahat memiliki awal dan akhir yang lebih jelas sehingga rutinitas harian tetap berjalan.
Istirahat yang Sehat Tidak Selalu Berarti Rebahan Seharian
Pada akhirnya, Bed Rotting memperlihatkan bahwa tubuh dan pikiran memang membutuhkan waktu untuk berhenti. Namun, istirahat tidak harus selalu berarti berada di kasur sepanjang hari. Berjalan santai, menikmati udara luar, membaca buku, mendengarkan musik, atau menjalankan hobi ringan juga dapat memberikan ruang untuk memulihkan energi. Interaksi sederhana dengan keluarga atau teman pun dapat menjadi bagian dari waktu istirahat yang menyenangkan. Selain itu, variasi aktivitas membantu menjaga keseimbangan antara relaksasi dan gerakan. Jika tubuh benar-benar lelah, tidur atau rebahan tentu tetap menjadi pilihan. Namun, ketika energi mulai kembali, aktivitas ringan dapat membantu tubuh kembali ke ritme normal. Dengan demikian, tujuan utama bukan menghindari rebahan sepenuhnya, melainkan menemukan pola istirahat yang membuat tubuh dan pikiran benar-benar terasa lebih baik.
