Beritalogy – Evakuasi Buaya bernama Coki dari sebuah rumah di Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung, menyisakan cerita emosional. Selama sekitar tiga tahun, Coki hidup dekat dengan keluarga yang merawatnya sejak masih kecil. Namun, waktu mengubah banyak hal. Tubuh buaya muara tersebut terus tumbuh hingga panjangnya mencapai sekitar 2,5 meter. Kondisi itu membuat keberadaan Coki di kawasan permukiman mulai menimbulkan risiko. Apalagi, buaya tersebut disebut mulai berkeliaran di sekitar pekarangan rumah. Pada Sabtu, 26 September 2026, petugas akhirnya datang untuk mengamankannya. Bagi keluarga, keputusan itu tentu tidak sederhana. Mereka telah terbiasa melihat Coki setiap hari dan membangun ikatan emosional dengannya. Sementara itu, petugas harus mempertimbangkan keselamatan masyarakat. Pertemuan dua kepentingan tersebut membuat proses pemindahan Coki bukan sekadar operasi penyelamatan satwa, melainkan juga perpisahan yang berat bagi keluarga.
Baca Juga: SBY hingga JK Datang Melayat, Rumah Duka Guruh Soekarnoputra
Tiga Tahun Kebersamaan Membuat Perpisahan Terasa Berat
Bagi Wike dan keluarganya, Coki bukan sekadar reptil berukuran besar di halaman rumah. Mereka mengenal dan merawatnya sejak tubuhnya masih kecil. Oleh sebab itu, Evakuasi Buaya tersebut memunculkan reaksi emosional yang kuat. Wike disebut menangis histeris dan sempat pingsan ketika petugas mengamankan Coki. Reaksi tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan manusia dengan hewan dapat tumbuh melalui rutinitas panjang. Memberi makan dan melihat perkembangannya setiap hari tentu menciptakan kedekatan tersendiri. Namun, buaya tetap memiliki karakter sebagai satwa liar. Kedekatan dengan manusia tidak otomatis menghilangkan insting maupun kekuatan fisiknya. Ketika panjang tubuh Coki mencapai lebih dari dua meter, risiko terhadap lingkungan menjadi semakin sulit diabaikan. Karena itu, keluarga menghadapi keputusan yang berat. Mereka harus berpisah dengan hewan yang sudah dianggap dekat, sementara petugas memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan warga di sekitar rumah.
Negosiasi Berlangsung Alot Sebelum Coki Dibawa Petugas
Proses Evakuasi Buaya Coki tidak langsung berjalan mulus. Camat Panjang Hendry Satria Jaya mengatakan negosiasi dengan keluarga sempat berlangsung alot. Situasi tersebut dapat dipahami karena Coki sudah dipelihara selama kurang lebih tiga tahun. Meski demikian, ukuran tubuh buaya yang semakin besar menjadi pertimbangan penting. Coki bahkan mulai bergerak di sekitar pekarangan rumah. Dalam kondisi seperti itu, potensi pertemuan dengan warga sekitar semakin terbuka. Pemerintah setempat kemudian memilih mengutamakan keamanan lingkungan. Pendekatan melalui komunikasi tetap dilakukan agar keluarga memahami alasan pemindahan. Pada akhirnya, evakuasi dapat berlangsung meskipun suasananya penuh emosi. Peristiwa ini menunjukkan bahwa penanganan satwa liar di lingkungan masyarakat tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis. Komunikasi dengan pemilik juga sangat penting. Petugas perlu menjaga keselamatan tanpa mengabaikan hubungan emosional yang telah terbentuk antara keluarga dan hewan yang selama ini mereka rawat.
Tujuh Personel Menjalankan Proses Pengamanan Bertahap
Menghadapi buaya muara sepanjang sekitar 2,5 meter membutuhkan persiapan yang matang. Dalam Evakuasi Buaya Coki, Damkarmat Bandar Lampung mengerahkan tujuh personel dan satu unit mobil rescue. Petugas terlebih dahulu mengarahkan Coki menuju daratan. Langkah tersebut membantu tim mendapatkan posisi yang lebih aman untuk melakukan pengendalian. Setelah itu, petugas menggunakan tali untuk mengamankan bagian mulut. Kaki dan tubuh Coki kemudian diikat sebelum proses pemindahan dilakukan. Kasi Bidang Penyelamatan Damkarmat Bandar Lampung Omar Dhani menjelaskan tahapan tersebut sebagai bagian dari proses pengamanan. Cara ini diperlukan karena buaya memiliki tenaga besar dan dapat bergerak cepat ketika merasa terancam. Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya tidak mencoba menangani reptil berukuran besar tanpa bantuan petugas berpengalaman. Kesalahan kecil dapat membahayakan manusia maupun hewan. Penanganan yang terukur juga membantu mengurangi tekanan pada satwa selama proses pemindahan berlangsung.
Ukuran Coki Menjadi Pertimbangan Utama Keselamatan Warga
Saat masih kecil, Coki mungkin terlihat lebih mudah dirawat di lingkungan rumah. Namun, setelah tiga tahun, ukuran tubuhnya mencapai sekitar 2,5 hingga 2,7 meter. Perubahan tersebut membuat Evakuasi Buaya menjadi pilihan yang semakin sulit dihindari. Terlebih lagi, Coki disebut mulai berkeliaran di sekitar pekarangan. Kondisi itu meningkatkan kemungkinan interaksi dengan warga yang tidak terbiasa menghadapi satwa liar. Buaya muara memiliki kekuatan fisik besar dan tetap membawa perilaku alaminya. Karena itu, rasa terbiasa dari pemilik tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keamanan. Pemerintah setempat menyebut pemindahan dilakukan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Dari sisi keselamatan, langkah tersebut cukup penting karena kawasan permukiman bukan habitat atau fasilitas khusus untuk buaya berukuran besar. Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan tantangan memelihara satwa liar. Hewan yang awalnya kecil dapat berkembang hingga membutuhkan ruang, fasilitas, serta sistem pengamanan yang jauh berbeda.
Baca Juga: Perjalanan Terakhir Guruh Soekarnoputra, Dimakamkan di Samping Fatmawati
Coki Akan Mendapat Penanganan di Tempat Penangkaran
Setelah Evakuasi Buaya selesai, Coki tidak dilepas begitu saja. Satwa tersebut diserahkan kepada pihak berwenang untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Koordinator Satpel Palembang LPK Pekanbaru KKP Hade Hambrata menyebut Coki direncanakan dibawa ke tempat penangkaran buaya PT Vista Agung Kencana di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Berdasarkan identifikasi awal, Coki merupakan buaya muara. Pemindahan menuju fasilitas penangkaran menjadi babak baru setelah sekitar tiga tahun hidup bersama keluarga di Bandar Lampung. Tempat khusus dapat menyediakan sistem pengamanan yang lebih sesuai bagi reptil berukuran besar. Selain itu, pengelola dapat memperhatikan kebutuhan satwa dengan prosedur yang lebih terstruktur. Bagi keluarga, perpindahan tersebut tentu meninggalkan ruang kosong setelah bertahun-tahun merawat Coki. Namun, dari sisi pengelolaan satwa, fasilitas khusus memberikan lingkungan yang lebih sesuai dibandingkan pekarangan rumah yang berada dekat dengan aktivitas masyarakat.
Kisah Coki Mengingatkan Risiko Memelihara Satwa Liar
Di balik suasana haru, Evakuasi Buaya Coki membawa pelajaran penting mengenai kepemilikan satwa liar. Ketika seekor hewan masih kecil, kebutuhan ruang dan pengamanannya mungkin terlihat sederhana. Namun, situasinya berubah seiring pertumbuhan. Buaya dapat berkembang menjadi reptil berukuran besar dengan kebutuhan khusus. Karena itu, masyarakat perlu mempertimbangkan kemampuan jangka panjang sebelum memelihara satwa semacam ini. Pemerintah setempat juga mengingatkan pentingnya izin khusus bagi masyarakat yang memelihara hewan liar atau berpotensi membahayakan. Ketentuan tersebut bukan sekadar persoalan administrasi. Ada aspek keselamatan manusia, kesejahteraan satwa, dan keamanan lingkungan yang harus diperhatikan. Selain itu, penanganan satwa liar membutuhkan pengetahuan yang berbeda dari hewan domestik. Jika masyarakat menemukan atau masih memelihara buaya, langkah yang lebih aman adalah menghubungi pihak berwenang. Dengan begitu, proses penanganan dapat dilakukan oleh personel yang memiliki pengalaman dan perlengkapan memadai.
Perpisahan Coki Menjadi Pelajaran tentang Sayang dan Tanggung Jawab
Cerita Evakuasi Buaya Coki akhirnya mempertemukan dua hal yang sama-sama penting, yakni rasa sayang dan tanggung jawab. Keluarga tentu memiliki kenangan setelah merawat Coki selama sekitar tiga tahun. Namun, perubahan ukuran tubuh membuat situasinya berbeda dari masa awal pemeliharaan. Risiko terhadap masyarakat meningkat, sementara kebutuhan Coki juga menjadi semakin kompleks. Karena itu, pemindahan menuju fasilitas khusus menjadi jalan yang dipilih. Perpisahan tersebut mungkin menyakitkan bagi keluarga, tetapi keselamatan tidak dapat dikesampingkan hanya karena kedekatan emosional. Pada saat yang sama, kisah ini dapat menjadi pengingat bagi masyarakat agar memahami konsekuensi sebelum memelihara satwa liar. Menyayangi hewan tidak selalu berarti mempertahankannya di rumah. Dalam kondisi tertentu, menyerahkan satwa kepada pihak yang memiliki fasilitas dan kemampuan memadai justru menjadi bentuk tanggung jawab. Coki kini meninggalkan rumah yang membesarkannya untuk memasuki lingkungan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.
