Beritalogy – Lansia menjadi salah satu kelompok yang paling perlu mendapat perhatian saat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla terjadi. Kabut asap bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari. Paparan dalam kondisi udara buruk juga dapat memengaruhi kesehatan. Sekitar 3,8 juta lansia tercatat tinggal di delapan provinsi yang terdampak karhutla. Angka tersebut menunjukkan besarnya kelompok rentan yang perlu dilindungi. Terlebih, sebagian orang lanjut usia telah memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Kondisi itu dapat membuat tubuh lebih sensitif terhadap penurunan kualitas udara. Gangguan tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Masalah jantung dan pembuluh darah juga perlu mendapat perhatian. Oleh karena itu, keluarga perlu memahami risiko sejak awal. Upaya sederhana seperti mengurangi paparan asap dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan selama karhutla berlangsung.
Baca Juga: Serangga Hidup Keluar dari Perut Wanita yang Dibedah, Santet?
Mengapa Kelompok Usia Lanjut Lebih Rentan?
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa kelompok usia lanjut memang memiliki kerentanan lebih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah penyakit penyerta yang lebih sering ditemukan seiring bertambahnya usia. Misalnya, seseorang mungkin telah memiliki hipertensi, penyakit jantung, asma, atau gangguan paru kronis. Ketika kualitas udara memburuk, kondisi tersebut dapat menjadi lebih sulit dikendalikan. Selain itu, kemampuan tubuh untuk menghadapi tekanan lingkungan juga dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, dampak kabut asap tidak selalu sama antara kelompok usia muda dan lanjut usia. Kondisi kesehatan sebelumnya ikut menentukan tingkat risiko. Dalam situasi seperti ini, pemantauan kesehatan menjadi sangat penting. Keluarga juga sebaiknya tidak menunggu sampai keluhan menjadi berat sebelum mencari pertolongan medis.
Partikel Halus dalam Asap Menjadi Perhatian
Asap karhutla membawa berbagai polutan yang dapat mencemari udara. Di antaranya terdapat partikel halus seperti PM2.5 dan PM10. Ukurannya yang kecil memungkinkan partikel masuk ke sistem pernapasan ketika seseorang menghirup udara tercemar. Oleh sebab itu, paparan menjadi perhatian khusus bagi Lansia dengan gangguan pernapasan sebelumnya. Mereka yang memiliki asma, bronkitis, atau penyakit paru obstruktif kronis dapat mengalami keluhan yang memburuk. Namun, tingkat dampaknya dapat berbeda pada setiap individu. Lama paparan, konsentrasi polutan, dan kondisi kesehatan ikut memengaruhi risiko. Karena itu, membatasi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara buruk menjadi langkah yang masuk akal. Selain mengurangi paparan, keluarga perlu mengikuti informasi kualitas udara dari sumber resmi. Dengan demikian, aktivitas sehari-hari dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Risiko Tidak Hanya Mengincar Paru-paru
Masalah akibat kualitas udara buruk tidak berhenti pada saluran pernapasan. Sistem kardiovaskular juga menjadi perhatian, terutama bagi orang dengan penyakit jantung atau hipertensi. Karena itu, keluarga perlu memperhatikan kondisi Lansia yang memiliki riwayat penyakit tersebut. Jika tubuh sudah memiliki masalah kesehatan sebelumnya, paparan polusi dapat memberikan beban tambahan. Dalam kondisi seperti ini, rutinitas pengobatan tidak boleh terabaikan. Obat yang diresepkan tenaga kesehatan tetap perlu digunakan sesuai petunjuk. Selain itu, perubahan kondisi tubuh sebaiknya tidak dianggap sepele. Sesak napas berat atau nyeri dada membutuhkan perhatian medis. Hal serupa berlaku jika terjadi penurunan kesadaran atau kebingungan secara tiba-tiba. Pada akhirnya, mengenali tanda bahaya lebih awal dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih cepat.
Puluhan Ribu Kasus ISPA Mulai Tercatat
Dampak gangguan pernapasan juga terlihat dari laporan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Hingga akhir Agustus 2026, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50 ribu kasus. Hampir 40 ribu kasus dilaporkan pada kelompok usia di atas lima tahun. Sementara itu, jumlah kasus berbeda pada setiap wilayah terdampak. Kalimantan Barat mencatat lebih dari 16 ribu kasus. Kalimantan Tengah juga melaporkan lebih dari 6 ribu kasus. Data tersebut memberikan gambaran mengenai tantangan kesehatan yang muncul bersamaan dengan karhutla. Meski demikian, angka ISPA secara keseluruhan tidak berarti seluruh kasus terjadi pada Lansia atau seluruhnya disebabkan langsung oleh asap karhutla. Karena itu, data perlu dibaca secara hati-hati. Namun, peningkatan kebutuhan layanan kesehatan tetap menjadi alasan kuat untuk memperkuat pencegahan dan pemantauan di daerah terdampak.
Fasilitas Kesehatan Disiagakan di Wilayah Terdampak
Menghadapi kondisi tersebut, layanan kesehatan disiapkan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat. Puskesmas dan rumah sakit rujukan menjadi bagian penting dalam penanganan. Selain itu, pelayanan juga tersedia melalui pos pengungsian di wilayah yang membutuhkan. Sejumlah fasilitas dibekali kebutuhan medis seperti tabung oksigen dan oksigen konsentrator. Obat-obatan juga disiapkan untuk mendukung pelayanan pasien. Langkah ini penting karena kondisi pernapasan dapat berubah dengan cepat pada kelompok rentan. Di sisi lain, pemantauan kasus dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons Situasi Khusus. Public Safety Center 119 serta tenaga cadangan kesehatan turut disiagakan untuk menghadapi kondisi darurat. Bagi keluarga dengan Lansia, keberadaan fasilitas tersebut tetap perlu dibarengi dengan kesiapan di rumah. Mengetahui fasilitas kesehatan terdekat dapat membantu ketika pertolongan diperlukan.
Baca Juga: Vaksin HPV Bikin Mandul dan Rahim Kering? Obgyn Luruskan Faktanya
Ratusan Ribu Masker Didistribusikan
Upaya mengurangi paparan juga dilakukan melalui distribusi masker. Lebih dari 267 ribu masker dikirim ke Kalimantan Tengah. Sementara itu, jumlah yang dikirim ke Jambi mencapai lebih dari 470 ribu masker. Distribusi tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya perlindungan masyarakat di daerah terdampak. Namun, penggunaan masker tetap harus dilakukan dengan benar agar manfaatnya lebih optimal. Selain itu, mengurangi waktu berada di luar ruangan saat udara sangat buruk tetap penting. Bagi Lansia, keputusan untuk beraktivitas di luar rumah perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan dan kualitas udara. Jika aktivitas dapat ditunda, berada di lingkungan dengan udara lebih bersih merupakan pilihan yang lebih aman. Dengan begitu, paparan terhadap partikel dari kabut asap dapat dikurangi.
Keluarga Memegang Peran Penting Melindungi Lansia
Perlindungan tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan. Keluarga dan caregiver memiliki peran besar dalam menjaga Lansia selama kualitas udara memburuk. Langkah pertama adalah membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap semakin pekat. Selain itu, kebutuhan cairan perlu tetap diperhatikan. Pengobatan penyakit kronis juga harus berjalan sesuai arahan dokter. Kondisi bencana jangan sampai membuat obat rutin terputus. Selanjutnya, keluarga perlu memperhatikan perubahan kondisi yang tidak biasa. Sesak napas, nyeri dada, kebingungan mendadak, atau penurunan kesadaran merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan. Jika kondisi tersebut muncul, pertolongan medis perlu segera dicari. Pendekatan ini terasa sederhana. Namun, perhatian terhadap rutinitas harian justru menjadi bagian penting dalam melindungi kelompok rentan selama karhutla.
Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Kabut Asap
Karhutla sering terlihat sebagai persoalan lingkungan karena asap dapat menutupi langit dan mengganggu jarak pandang. Namun, dampaknya jauh lebih luas ketika kesehatan masyarakat ikut terancam. Keberadaan sekitar 3,8 juta Lansia di delapan provinsi terdampak menunjukkan besarnya kelompok yang membutuhkan perhatian. Risiko juga menjadi lebih kompleks ketika seseorang memiliki penyakit kronis sebelumnya. Oleh sebab itu, pencegahan perlu dilakukan dari berbagai sisi. Pemerintah dapat memperkuat layanan dan pemantauan kesehatan. Sementara itu, keluarga dapat membantu mengurangi paparan serta memastikan pengobatan tetap berjalan. Informasi kualitas udara juga sebaiknya diperiksa secara berkala. Pada akhirnya, perlindungan terbaik bukan sekadar menunggu munculnya keluhan. Mengurangi paparan sejak awal dan mengenali tanda bahaya dapat membantu menekan risiko kesehatan selama periode karhutla.
