Beritalogy – Kisah seorang Pria Afghanistan bernama Muhammad Sadeq menjadi sorotan setelah kehidupan keluarga besarnya terungkap. Ia memiliki empat istri dan disebut pernah menjadi ayah bagi lebih dari 70 anak. Sebanyak 58 anaknya masih hidup, sementara beberapa lainnya meninggal ketika masih kecil. Di balik jumlah keluarga yang luar biasa besar, Sadeq menghadapi kenyataan yang berat. Penghasilannya terbatas, sedangkan kebutuhan makanan dan kebutuhan dasar terus bertambah. Kondisi tersebut membuat kehidupan keluarganya menjadi potret nyata kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di Afghanistan.
Baca Juga: 247 Murid Keracunan, Pimpinan TK di China Divonis Seumur Hidup
Pria Afghanistan Hidup Bersama Keluarga yang Sangat Besar
Muhammad Sadeq menjalani kehidupan yang berbeda dari kebanyakan keluarga. Bersama empat istrinya, ia harus memenuhi kebutuhan puluhan anak dalam satu keluarga besar. Anak termudanya bahkan baru berusia sekitar tiga bulan. Dengan jumlah anggota keluarga tersebut, kebutuhan sehari-hari tentu sangat tinggi. Makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, kemampuan ekonomi Sadeq berada jauh di bawah kebutuhan tersebut. Situasi ini kemudian menciptakan tekanan yang terus berulang. Ketika pendapatan tidak bertambah, setiap anggota keluarga harus berbagi sumber daya yang sangat terbatas. Kisah ini akhirnya bukan sekadar mengenai banyaknya anak, tetapi juga mengenai kemampuan sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar.
Rumah Tanah Liat Menjadi Tempat Mereka Berteduh
Keterbatasan ekonomi terlihat jelas dari kondisi tempat tinggal keluarga tersebut. Mereka tinggal di bangunan sederhana yang sebagian besar terbuat dari tanah liat. Rumah itu juga tidak dilengkapi pintu dan jendela yang memadai. Sebagai gantinya, tirai tipis digunakan untuk memberikan sedikit perlindungan. Kondisi tersebut tentu membuat kehidupan sehari-hari semakin sulit, terutama ketika cuaca berubah. Selain itu, keluarga ini menghadapi keterbatasan bahan bakar untuk memasak. Mereka terkadang menggunakan kertas karena tidak mampu membeli kayu bakar. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kemiskinan yang mereka alami telah menyentuh kebutuhan paling mendasar.
Anak-Anak Menjadi Pihak yang Paling Rentan
Di tengah keterbatasan tersebut, anak-anak menghadapi dampak paling besar. Sebagian dari mereka disebut pernah tidur dalam keadaan lapar karena makanan tidak selalu tersedia. Beberapa anak juga berjalan tanpa alas kaki karena keluarga tidak mampu menyediakan sepatu. Situasi seperti ini menunjukkan bagaimana kemiskinan dapat memengaruhi kehidupan anak sejak usia sangat muda. Mereka tidak hanya membutuhkan makanan, tetapi juga pakaian, pendidikan, tempat tinggal aman, dan akses kesehatan. Ketika kebutuhan dasar sulit terpenuhi, peluang anak untuk tumbuh secara optimal ikut terpengaruh. Karena itu, cerita keluarga Sadeq juga membuka diskusi lebih luas mengenai perlindungan dan kesejahteraan anak.
Penghasilan Bergantung pada Penjualan Mobil
Sadeq memperoleh pendapatan dari pekerjaannya di sebuah tempat penjualan mobil. Menurut keterangannya, ia menerima sekitar 1.000 Afghani atau sekitar US$15 untuk setiap kendaraan yang berhasil dijual. Penghasilan tersebut menjadi sumber utama untuk menopang keluarganya. Namun, pekerjaan berbasis penjualan tidak selalu memberikan pemasukan yang stabil. Jika tidak ada transaksi, pendapatan juga dapat berkurang. Di sisi lain, kebutuhan puluhan anggota keluarga terus berjalan setiap hari. Ketimpangan antara pendapatan dan kebutuhan inilah yang membuat kondisi ekonomi keluarga semakin berat. Dalam keluarga sebesar itu, pengeluaran kecil sekalipun dapat berubah menjadi beban besar ketika harus dikalikan untuk puluhan orang.
Jumlah Anak Membuat Sadeq Sulit Mengingat Semua Nama
Besarnya keluarga Sadeq menghadirkan kenyataan lain yang tidak biasa. Ia mengaku tidak mampu mengingat nama seluruh anaknya. Dalam beberapa kesempatan, Sadeq hanya menggunakan panggilan sederhana seperti “nak” atau “anak”. Pengakuan tersebut menggambarkan betapa besarnya keluarga yang harus ia kelola. Namun, di balik cerita yang terdengar tidak biasa itu terdapat persoalan mengenai perhatian dan pengasuhan. Setiap anak membutuhkan hubungan emosional, perlindungan, serta perhatian dari orang tua. Ketika jumlah anak sangat besar sementara sumber daya terbatas, memenuhi kebutuhan individual menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, persoalan keluarga ini tidak dapat dilihat hanya melalui angka.
Beberapa Anak Meninggal ketika Masih Kecil
Kehidupan Pria Afghanistan tersebut juga menyimpan cerita kehilangan. Sadeq mengatakan beberapa anaknya meninggal ketika masih kecil. Ia menyebut penyakit seperti tuberkulosis, batuk rejan, dan campak sebagai beberapa penyebab kematian. Selain itu, ia menghubungkan sebagian persoalan pengasuhan dengan usia muda para ibu ketika menikah. Menurut pengakuannya, keterbatasan pengalaman membuat perawatan anak pada masa awal menjadi lebih sulit. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya akses terhadap layanan kesehatan ibu dan anak. Informasi mengenai menyusui, imunisasi, nutrisi, serta penanganan penyakit dapat berperan besar dalam menjaga kesehatan anak, terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan.
Pernikahan Usia Anak Masih Menjadi Persoalan
Cerita keluarga Sadeq tidak dapat dilepaskan dari persoalan pernikahan usia anak di Afghanistan. Ia mengaku menikahi keempat istrinya ketika mereka masih muda. Dalam konteks yang lebih luas, praktik pernikahan sebelum usia dewasa masih menjadi perhatian organisasi internasional. Data UNICEF tahun 2023 yang dikutip dalam laporan tersebut menyebut lebih dari empat juta perempuan Afghanistan berusia 20 hingga 24 tahun telah menikah sebelum berusia 18 tahun. Pernikahan pada usia terlalu muda dapat berkaitan dengan berbagai tantangan, termasuk pendidikan yang terhenti serta keterbatasan kesiapan dalam menjalani peran sebagai orang tua. Oleh sebab itu, persoalan ini memiliki dimensi sosial yang jauh lebih luas daripada kehidupan satu keluarga.
Baca Juga: Bisakah Sosialis Prancis Menangkan Dukungan Pemilih Muda pada 2027?
Sadeq Mengaku Akan Memilih Jalan Berbeda
Setelah menghadapi berbagai kesulitan, Sadeq mulai melihat kembali keputusan hidupnya. Ia mengakui bahwa dirinya mungkin tidak akan memiliki begitu banyak anak jika mengetahui keluarganya akan kesulitan memperoleh makanan. Pengakuan tersebut menunjukkan adanya penyesalan setelah realitas ekonomi semakin berat. Namun, laporan itu tidak menjelaskan secara rinci mengapa jumlah anggota keluarganya terus bertambah meski kebutuhan dasar sulit terpenuhi. Bagaimanapun, kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya perencanaan keluarga dan kesiapan ekonomi. Memiliki anak bukan hanya berkaitan dengan jumlah anggota keluarga. Orang tua juga memiliki tanggung jawab untuk menyediakan perlindungan, kesehatan, pendidikan, serta kebutuhan dasar bagi setiap anak.
Kemiskinan Afghanistan Menjadi Latar Cerita Lebih Besar
Kondisi keluarga Sadeq bukan satu-satunya cerita tentang kesulitan ekonomi di Afghanistan. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dikutip dalam laporan, tiga dari setiap empat penduduk negara tersebut menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Angka itu memberikan konteks penting terhadap kehidupan keluarga ini. Kemiskinan dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari terbatasnya lapangan pekerjaan hingga lemahnya akses terhadap layanan dasar. Karena itu, menyelesaikan persoalan tersebut membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Bantuan kemanusiaan memang penting dalam kondisi darurat. Namun, kesempatan kerja, pendidikan, layanan kesehatan, dan perlindungan sosial juga menentukan kemampuan keluarga keluar dari kemiskinan dalam jangka panjang.
Kisah Satu Keluarga Membuka Persoalan yang Lebih Luas
Kisah Pria Afghanistan dengan 58 anak ini pada akhirnya membawa perhatian pada persoalan yang lebih besar. Di balik angka yang mengejutkan terdapat anak-anak yang membutuhkan makanan, kesehatan, pendidikan, dan kehidupan yang aman. Cerita Sadeq juga memperlihatkan bagaimana kemiskinan, pernikahan usia muda, kesehatan, serta keterbatasan pekerjaan dapat saling berkaitan. Karena itu, kisah tersebut sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai fenomena keluarga besar. Ada dimensi kemanusiaan yang jauh lebih penting untuk dipahami. Ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, masa depan anak-anak menjadi bagian yang paling layak mendapat perhatian.
